Kebijakan Washington itu bikin banyak pemilik kapal kapok melintas di perairan Venezuela. Alhasil, stok minyak mentah dan bahan bakar milik PDVSA menumpuk di tempat penyimpanan. Perusahaan pun kelabakan. Untuk menghindari pemangkasan produksi, mereka terpaksa memperlambat pengiriman di pelabuhan dan menyimpan minyak di atas kapal tanker solusi darurat yang jelas tidak ideal.
Belum lagi urusan administrasi yang berantakan. Sistem PDVSA sebenarnya belum pulih total dari serangan siber yang terjadi juga pada Desember lalu. Serangan digital itu memaksa mereka mengisolasi terminal, ladang, dan kilang dari sistem pusat. Mau tak mau, PDVSA kembali mengandalkan pencatatan manual. Ribet, tapi setidaknya operasi tetap jalan.
Jadi, gambaran lengkapnya begini: fasilitas fisik produksi minyak masih utuh, tapi perusahaan ini terjepit dari berbagai sisi. Dari blokade laut, tumpukan stok, sampai sistem komputer yang masih jompo. Tantangan buat Caracas dan PDVSA ke depan masih sangat panjang.
Artikel Terkait
Pengacara Nadiem Bantah Dakwaan Korupsi: Kekayaan Justru Anjlok, Tak Ada Aliran Dana
Kekuatan Digital Trump: Miliarder Sekutu Kuasai Media hingga AI yang Anda Gunakan
Venezuela Tercekik: Minyak Berlimpah Berujung Utang Rp 2.400 Triliun
KUHAP Baru: Koordinasi dan CCTV untuk Hentikan Perkara Digantung