Perpustakaan di Sekolah Rakyat: Mengubah Cara Pikir untuk Putuskan Rantai Kemiskinan

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 19:06 WIB
Perpustakaan di Sekolah Rakyat: Mengubah Cara Pikir untuk Putuskan Rantai Kemiskinan

Dari dialog itu, fungsi strategis perpustakaan mulai terlihat. Ia tak bergantung pada banyaknya koleksi buku yang masih terbatas tapi pada cara literasi itu dihidupkan dalam keseharian.

Literasi yang Lebih dari Sekadar Membaca

Kepala Perpustakaan Nasional menegaskan satu hal. Literasi di Sekolah Rakyat bukan berhenti pada membaca. Anak-anak membaca, lalu mendiskusikan, dan akhirnya mengolah bacaan itu menjadi suatu aktivitas. Buku dibaca bersama, didedah, lalu dijadikan bahan untuk berkarya.

Pendekatan semacam ini membentuk kebiasaan. Anak-anak belajar mengikuti aturan, menunggu giliran, bekerja sama, dan menyelesaikan tugas. Literasi ditempatkan sebagai proses aktif yang terus bergulir.

Latar Belakang yang Tak Teratur

Kerangka pembinaan ini jadi sangat krusial mengingat latar belakang anak-anak Sekolah Rakyat. Banyak dari mereka datang dari lingkungan yang kacau. Pola makan, istirahat, aturan hidup bersama semua serba tak menentu.

Menyelesaikan konflik pun sering kali dengan cara keras, karena hanya itu yang mereka tahu. Kepala Sekolah menyebut mereka "anak-anak ajaib", punya energi luar biasa yang selama ini belum pernah diarahkan dengan struktur yang baik.

Perpustakaan sebagai Ruang Pembentuk Karakter

Dalam konteks seperti inilah, perpustakaan menemukan perannya. Ia menjadi ruang pembentukan perilaku. Anak-anak tak cuma meminjam buku; mereka dilibatkan mengelola ruang, menata rak, dan menjalankan kegiatan.

Pelibatan ini bukan untuk membebani. Ini tentang memberi pengalaman bertanggung jawab. Mereka belajar dipercaya, menjalankan tugas, dan berkontribusi. Perlahan-lahan, perilaku baru terbentuk.

Penutup

Jujur, perpustakaan di Sekolah Rakyat belum ideal. Koleksinya masih sedikit, layanannya masih dicari bentuknya. Tapi justru kondisi awal ini menunjukkan potensinya yang masih bisa dibentuk.

Jika kita serius menempatkan perpustakaan sebagai mesin perubahan perilaku, maka literasi bukan lagi aktivitas sampingan. Ia akan menjadi jantung dari desain pembinaan untuk membangun kapasitas berpikir dan pada akhirnya, memutus rantai kemiskinan ekstrem yang sudah terlalu lama berputar.


Halaman:

Komentar