Rezim Chavismo Runtuh, Maduro Ditangkap dalam Operasi AS

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 17:20 WIB
Rezim Chavismo Runtuh, Maduro Ditangkap dalam Operasi AS

✍🏻 Ayman Rashdan Wong

Sudah saya duga sebelumnya. Tapi, kecepatannya bikin kaget juga. Baru dua hari lalu saya bahas, eh, sekarang sudah terjadi.

Presiden Maduro ditangkap. Titik. Berakhir sudah kekuasaannya selama 12 tahun, sejak 2013 lalu.

Bukan cuma dia yang tumbang. Seluruh rezim "Chavismo" yang dibangun Hugo Chavez sosok yang sangat getol melawan AS ikut ambruk. Maduro kan penerusnya.

Dulu, di bawah Chavez, Venezuela berubah total. Dari sekutu dekat AS, jadi salah satu penentang paling vokal. Dia yang memimpin "Aliansi Bolivarian" bareng Kuba dan Nikaragua sebuah blok yang sengaja dibentuk buat nantangin pengaruh Washington. Bolivia dulu masuk, tapi sekarang udah balik lagi ke kubu AS.

Makanya, Venezuela tuh ibarat duri dalam daging buat Amerika. Sudah lama. Cuma, dari era Bush, Obama, sampai Biden, mereka kayaknya lebih sibuk urus Timur Tengah sama Eropa. Venezuela dibiarkan saja.

Nah, Trump lain cerita. Dia pengin fokusnya balik ke Amerika. Benua ini harus jadi "halaman belakang" yang benar-benar dia kuasai.

Alasan lain? Minyak. Cadangan minyak Venezuela itu yang terbesar di dunia, lho. Lebih gede dari Arab Saudi atau Iran sekalipun.

Obama dan Biden mungkin kurang tertarik energi hijau lebih jadi prioritas. Tapi Trump? Dia berpikirnya "jadul", anti-energi hijau, dan pro-minyak banget. Banyak taipan industri minyak yang jadi penyandang dananya. Wajar kalau dia harus balas budi. Sekalian cari untung, kan?

Kalau Venezuela bisa berhasil dia balikkan jadi pro-AS, itu jadi modal politik yang gede banget. Apalagi buat pemilu paruh waktu November nanti.

Nanti pendukungnya pasti akan bilang: Trump berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan Bush, Obama, dan Biden. "Presiden terhebat sepanjang masa," begitu kira-kira pujiannya.

Begitulah politik internasional. Yang kuat berbuat semaunya.

Lalu, apa AS akan dituntut di pengadilan internasional? Jangan harap.

Dikutuk di PBB? Mungkin iya. Tapi apa pengaruhnya? Nol besar.

Di panggung dunia, siapa yang punya kekuatan, dialah yang bikin aturan. Keadilan? Jangan tanya.

Sekarang, kita tinggal nunggu reaksi selanjutnya. Yang paling menarik sih, bagaimana Rusia dan China menyikapi hilangnya sekutu penting mereka di halaman depan Amerika ini.

(")

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar