Venezuela kembali melontarkan kecaman keras. Kali ini, sasarannya adalah Amerika Serikat, yang dituding melakukan agresi militer di sejumlah titik. Menurut laporan, serangan terjadi tidak hanya di ibu kota Caracas, tapi juga menjalar ke negara bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira menyasar lokasi sipil maupun fasilitas militer.
Dalam pernyataan resminya, pemerintah Caracas tak tanggung-tanggung menyebut aksi AS ini melanggar Piagam PBB. Mereka secara spesifik menunjuk Pasal 1 dan 2, yang jadi fondasi penghormatan kedaulatan dan larangan penggunaan kekuatan. Intinya, langkah Washington dinilai sebagai tamparan bagi hukum internasional.
“Setelah lebih dari 200 tahun merdeka, rakyat dan pemerintah sah Venezuela tetap teguh mempertahankan kedaulatan dan hak menentukan nasib sendiri,” begitu bunyi pernyataan yang dikeluarkan pada Sabtu, 3 Januari.
Di sisi lain, ada kekhawatiran serius bahwa stabilitas kawasan jadi taruhan. Venezuela menilai agresi ini bukan cuma urusan dua negara, tapi ancaman bagi perdamaian di seluruh Amerika Latin dan Karibia. Mereka meyakini motif AS jauh dari mulia: merebut kendali atas sumber daya strategis, terutama minyak dan mineral, sekaligus mencoba menghancurkan kemandirian politik Caracas. Namun, mereka bersikukuh upaya semacam itu pasti gagal.
Narasi perjuangan melawan intervensi asing sengaja diangkat. Pemerintah mengingatkan bahwa sejak merdeka tahun 1811, bangsa ini sudah berkali-kali menghadapi dan mengalahkan kekuatan luar. Mereka menyebut Presiden Cipriano Castro di era 1902, lalu menggaungkan semangat Simón Bolívar, seraya menyerukan rakyat untuk bangkit lagi.
Langkah konkret pun diambil. Presiden Nicolás Maduro disebut telah memerintahkan aktivasi penuh semua rencana pertahanan nasional. Keadaan "keguncangan eksternal" ditetapkan di seluruh wilayah. Angkatan Bersenjata dikerahkan dalam satu kesatuan dengan rakyat dan polisi semua untuk menjamin kedaulatan tetap utuh.
Namun begitu, jalur damai tidak ditinggalkan. Venezuela berencana melayangkan protes resmi ke berbagai forum internasional. Mereka akan mendatangi Dewan Keamanan PBB, Sekjen PBB, hingga organisasi kawasan seperti CELAC dan Gerakan Non-Blok. Mereka juga bersiap menggunakan hak membela diri sesuai Pasal 51 Piagam PBB.
Seruan solidaritas internasional digaungkan, khususnya kepada negara-negara di Amerika Latin dan Karibia, untuk bersama menentang apa yang disebut "agresi imperialis" AS.
Pernyataan itu ditutup dengan kutipan mendiang Hugo Chávez, seolah memberi semangat: bahwa jawaban atas setiap kesulitan adalah “persatuan, perjuangan, pertempuran, dan kemenangan.” Sebuah pesan yang jelas ingin menyatukan opini dalam negeri sekaligus mengirim sinyal ke dunia luar.
Artikel Terkait
Istri Anggota DPRD Sulsel Tewas dalam Kecelakaan Maut di Tol Makassar
Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri
Wakil Bupati Bone Serahkan Bantuan dan Refleksikan Kinerja Setahun di Safari Ramadan
Kapolri Perintahkan Bareskrim Tindak Tegas Pencucian Uang dari Tambang Emas Ilegal