Akibatnya jelas. Beban bunga yang membengkak langsung menggerus anggaran untuk pembangunan dan perlindungan sosial. Setiap kenaikan sedikit saja, kemampuan pemerintah membiayai program prioritas jadi makin terbatas.
Di sisi lain, situasi ini mendorong desakan agar pemerintah mengevaluasi proyek-proyek besar yang menghabiskan banyak anggaran. Ekonom UNS Solo, Lukman Hakim, menilai pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) perlu ditinjau ulang. Apalagi di tengah tekanan utang dan bunga yang kian berat seperti sekarang.
Lukman melihat, indikator debt service ratio dan debt income ratio menunjukkan tren peningkatan. Artinya, kewajiban utang makin menekan kapasitas fiskal negara. Dalam kondisi seperti ini, proyek yang dampak ekonominya tidak langsung dinilai berisiko. Bisa-bisa malah mempersempit ruang gerak pemerintah.
Pada akhirnya, tanpa penyesuaian kebijakan fiskal dan evaluasi belanja yang ketat, beban bunga utang berpotensi terus membesar. Jika itu terjadi, fungsi APBN sebagai motor pembangunan dan penstabil ekonomi bisa terancam. Situasinya memang perlu diwaspadai.
Artikel Terkait
Sidang Praperadilan Yaqut Ditunda, KPK Absen di Persidangan Perdana
Pantai Akkarena Makassar: Destinasi Favorit Warga dengan Pemandangan Senja Memikat
Banjir Rendam Sejumlah Titik di Makassar, Tello Baru Terparah
Gempa Magnitudo 3,2 Guncang Sukabumi, Tidak Ada Laporan Kerusakan