Sementara itu, Harian Kompas mengaku mengambil sikap yang sedikit berbeda. Tri Agung Kristanto, sang Wakil Pemimpin Umum, menyebut mereka menjaga jarak. Tapi bukan berarti mengabaikan. "Kasus ini terlalu menarik untuk dibiarkan lewat begitu saja," ujarnya. Mereka tetap mengikuti perkembangannya dengan saksama.
Awalnya, Tri Agung juga menduga motif Roy Suryo. Mungkin hanya ingin menjaga nama Jokowi tetap hidup, mengingat keduanya pernah dekat. Tapi dugaan itu buyar ketika Roy Suryo mulai menyoroti ijazah Gibran. Saat itulah segalanya berubah. "Ini bukan lagi satu kutub yang sama," katanya, "tapi sudah dua kutub yang saling berlawanan."
Lalu, bagaimana tanggapan Roy Suryo menghadapi "pengadilan" dari tiga pemred ini? Ia tak banyak membela diri. Malah terkesan berwayang, bermain di depan mereka. Roy Suryo sempat membuka bukunya, berusaha meyakinkan bahwa ijazah Jokowi itu palsu berdasarkan analisisnya terhadap postingan Dian Sandi Utama, seorang kader PSI.
Yang membuat para pemred heran, kasus ini umurnya jauh lebih panjang ketimbang kasus serupa seperti Bambang Tri atau Gus Nur. Mereka menduga Roy Suryo pasti punya backing politik kuat. Tapi backing itu, menurut mereka, bukanlah "orang besar" seperti yang kerap ditudingkan. Melainkan publik luas, termasuk media-media besar seperti Kompas sendiri, yang turut memberitakannya.
(Erizal)
[VIDEO ROY SURYO DI KOMPAS TV]
Artikel Terkait
Di Balik Gemerlap Tahun Baru, Banyak Orang Diam-diam Berjuang Melawan Kecemasan
Derita Polresta Banyuwangi: 17 Ribu Panggilan Iseng Serbu Nomor Darurat 110
Gencatan Senjata Gaza: 418 Nyawa Melayang di Tengah Masa Tenang
Maduro Ditangkap, Keberadaannya Kini Misterius