Kepala Kejati Kalbar, Dr. Emilwan Ridwan, membenarkan aksi penggeledahan itu. Tapi begitu ditanya soal keterkaitan sang politisi, Yuliansyah, jawabannya justru datang dari Jubir.
I Wayan Gedin Harianta, SH., MH, dari Seksi Penerangan Hukum Kejati, memilih bersikap hati-hati. “Saya belum bisa berkomentar lebih jauh,” kira-kira begitu sikapnya.
Dari kubu Yuliansyah? Sama sekali tak ada suara. Berbagai upaya konfirmasi, termasuk lewat WhatsApp, tak digubris. Diamnya mereka justru memantik kecurigaan publik. Masyarakat minta penyidikan ini jangan setengah-setengah, jangan cuma berhenti di level perusahaan saja.
Kejati berjanji akan bekerja profesional dan transparan. Tapi wacana normatif seperti itu sudah sering kita dengar. Yang ditunggu sekarang adalah bukti nyata. Kasus ini benar-benar ujian: seberapa berani aparat menelusuri jejak korupsi yang melibatkan relasi kuasa antara politik dan bisnis.
Pertanyaan besarnya tetap menggantung. Akankah penyidikan ini berani membongkar sampai ke aktor intinya? Atau malah kandas di tengah jalan, seperti banyak kasus lainnya? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
Indonesia Butuh Pemimpin Teladan, Bukan Sekadar Penguasa
Ketika Dewasa Datang, Rasa Tenang Masa Kecil Justru Menghilang
Uang dalam Islam: Bukan Soal Emas, Tapi Soal Kesepakatan
Gempa 5,7 SR Guncang Perairan Papua, Warga Diimbau Tetap Siaga