Pengalaman itu mengubah caraku memandang banyak hal, termasuk masa lalu. Aku mulai melihatnya dengan jarak. Lebih tenang, tanpa beban menyalahkan.
Aku mencoba memahami orang tuaku. Mereka membesarkanku dengan cara yang mereka pahami satu-satunya. Cara yang lahir dari pengalaman hidup mereka sendiri, dari apa yang mereka ketahui. Memang, kadang caranya terasa keras. Bahkan menyisakan perih yang tak cepat sembuh.
Tapi kini aku sadar, mereka menjalani peran itu dengan bekal yang mereka miliki tidak lebih.
Tanpa kerja keras mereka, aku tak akan sampai di titik ini. Tak akan punya kesempatan mengenyam pendidikan sejauh ini. Apapun bentuknya, merekalah yang pertama membuka jalan.
Aku tidak serta-merta menyalahkan mereka sepenuhnya.
Tapi aku juga tak membenarkan semua yang dulu menyakitkan. Aku cuma belajar untuk memahami. Bahwa setiap orang tua punya bahasa cinta yang berbeda-beda, dan terkadang, bahasanya tak mudah kita terjemahkan.
Sekarang? Aku masih dalam proses menerima.
Menerima bahwa hidup jarang memberi apa yang kita inginkan, tapi seringkali memberi apa yang kita perlukan. Semua yang telah lalu kubawa saja sebagai bagian dari perjalanan. Tanpa dendam. Tanpa beban kebencian yang memberatkan.
Aku mungkin tak selalu dikuatkan oleh orang lain, tapi aku bertahan.
Dan untuk hari ini, rasanya itu sudah cukup.
Artikel Terkait
Banjir Banten Melanda Jalan hingga Makam, Ratusan Warga Dievakuasi
Pesta Miras dan Joget di Halaman Puskesmas Kolut Bikin Heboh
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat 2021 di Malam Tahun Baru 2026
Pilkada via DPRD: Efisiensi yang Menggerus Kedaulatan Rakyat