Kunjungannya ini terjadi pada momen yang genting. Gaza baru saja memasuki tahun 2026 dengan gencatan senjata Israel-Hamas yang sangat rapuh. Memang pemboman skala besar sudah berkurang, tapi korban jiwa masih terus berjatuhan akibat tembakan-tembakan di sekitar garis kendali. Krisisnya makin menjadi: cuaca dingin, hujan tak henti, dan kekurangan tempat tinggal yang layak.
Nah, kehadiran Jolie di Rafah ini jelas bukan sekadar untuk pencitraan. Ini adalah sebuah pernyataan. Sebuah protes.
Dengan berdiri di titik penyeberangan itu, bertatap muka dengan pekerja kemanusiaan, sopir truk bantuan, dan korban luka di Al-Arish, ia secara terbuka mengecam blokade yang berlangsung. Menentang pengepungan berarti menolak segala kejahatan yang ditimbulkannya: kelaparan, hukuman kolektif, dan penderitaan massal warga tak bersalah.
Ini punya bobot yang berarti. Jolie sudah lama berkecimpung di dunia ini, jauh sebelum aktivisme di media sosial menjadi tren. Ia menghabiskan puluhan tahun di garis depan, memilih mengunjungi kamp pengungsi daripada berjalan di karpet merah. Ia memilih bersuara daripada diam. Kehadirannya saat ini menyuarakan apa yang akhirnya banyak orang berani katakan: Gaza sedang dicekik dengan sengaja.
Dan ini, bagi banyak pengamat, adalah sebuah titik balik. Dunia hiburan tak lagi sepenuhnya takut. Mantra intimidasi perlahan retak. Ketika sosok dengan pengaruh global sedemikian besar berdiri tegak melawan blokade, itu pertanda bahwa narasi sedang berubah. Kebenaran mulai menemukan jalannya.
Artikel Terkait
Pilkada via DPRD: Efisiensi yang Menggerus Kedaulatan Rakyat
Prabowo Ucapkan Selamat Tahun Baru 2021 di Malam Pergantian 2026
Tukang Lumpia Dago: Dari TikTok ke Gerobak dengan Jas dan Dasi
Prabowo Salah Ucap Tahun Baru, Versi Dirapi Justru Bikin Publik Tertawa