Antara Akademik dan Realitas Kehidupan
Di lingkungan kampus, mereka tetap diharap tampil biasa aja. Datang, aktif, pulang, tanpa banyak cerita. Lelah dianggap wajar, bagian dari "proses". Stres pun dinormalisasi. Ungkapan seperti “yang penting masih bisa kuliah” mungkin terdengar menenangkan, tapi bagi mereka yang hidup di dua dunia, kalimat itu sering nggak nyampe ke hati.
Menjadi mahasiswa sekaligus pekerja sejak muda juga berarti banyak hal harus ditunda. Ikut UKM, eksplor minat, atau sekadar nongkrong santai bisa jadi kemewahan. Hidup berjalan begitu cepat, sementara kesempatan untuk berhenti sejenak dan bernapas terasa makin langka.
Tulisan ini nggak mau meromantisasi kesulitan atau cari belas kasihan. Ini cuma upaya kecil buat melihat realitas yang lebih utuh. Nggak semua mahasiswa punya jalan yang sama. Ada yang bisa konsen penuh ke buku, ada yang harus membagi konsentrasi demi sekadar bertahan.
Memahami ini semua penting banget. Supaya kita nggak gampang menyederhanakan perjuangan orang lain. Terjepit antara kuliah, kerja, dan keluarga itu bukan soal kurang usaha. Ini tentang hidup yang punya tantangannya sendiri. Dan barangkali, dengan mengakui kompleksitas itu, kita bisa mulai saling mengerti.
Artikel Terkait
Demokrasi Terengah-engah, Ekonomi Merangkak: Potret Retak Pemerintahan Daerah
Dosen Gugat UU, Hak Hidup Layak Dipertaruhkan di Meja Hijau
Mobil Toyota Agya Meledak Jadi Bara di Halaman SMK Sragen
Ledakan Pipa Gas TGI Guncang Dusun Nibul, Api Membubung 15 Meter