Resolusi 2026: Antara Harapan Pribadi dan Panggung Media Sosial

- Jumat, 02 Januari 2026 | 20:06 WIB
Resolusi 2026: Antara Harapan Pribadi dan Panggung Media Sosial

Interaksi yang menyusul kemudian ikut memperkuat maknanya. Like, komentar, atau sekadar pesan dukungan memberi rasa dihargai dan ditemani. Ucapan sederhana seperti “semangat ya 2026-nya!” bisa terasa sangat berarti. Bahkan bagi yang cuma membaca dan diam, banyak cerita resolusi orang lain terasa begitu dekat. Mungkin karena kita punya pengalaman serupa: kegagalan di tahun lalu, kelelahan, dan harapan untuk memulai lagi. Dari sini muncul rasa kebersamaan, seolah kita semua sedang berdiri di garis start yang sama.

Di sisi lain, resolusi juga jadi sarana untuk meluapkan emosi. Tahun baru seringkali datang membawa serta beban dari masa lalu kekecewaan, kehilangan, atau rencana yang mentah. Konten refleksi membantu banyak orang menata ulang perasaan itu dan memberi ruang untuk kembali berharap. Dalam hal ini, media sosial berperan lebih dari sekadar tempat berbagi info. Ia menjadi ruang transisi emosional menuju fase hidup yang baru.

Namun begitu, ada sisi lain yang perlu kita sadari. Ketika resolusi berubah menjadi konten, ada risiko perubahan itu hanya berhenti di permukaan. Unggahan selesai di-posting, respons berdatangan, rasa puas pun muncul. Tapi langkah nyata tak kunjung dimulai. Kepuasan sesaat dari media sosial perasaan termotivasi atau merasa sudah ‘melangkah’ bisa menutupi kenyataan pahit: perubahan sejati membutuhkan proses panjang yang tak selalu instagramable.

Fenomena resolusi 2026 ini akhirnya menunjukkan satu hal dengan jelas: media sosial telah mengubah refleksi pribadi menjadi pengalaman bersama. Kita menggunakannya secara sadar untuk memenuhi kebutuhan identitas, emosi, dan relasi. Tantangannya sekarang bukan pada berhenti membuat resolasi. Tapi pada bagaimana memastikan platform ini tetap menjadi alat pendukung perubahan kita, bukan pengganti dari perubahan itu sendiri.


Halaman:

Komentar