Tanggal 1 Januari 2026, New York City punya wajah baru. Zohran Mamdani akhirnya dilantik, mengambil alih kursi Wali Kota ke-112. Momen ini bersejarah. Bukan cuma karena ia memimpin kota terbesar di AS, tapi karena ia adalah Muslim pertama sekaligus orang pertama keturunan Asia Selatan yang menduduki posisi itu.
Pelantikannya punya ciri khas. Al-Quran digunakan dalam prosesi sumpah. Lalu, ada doa khusus yang dipimpin Imam Khalid Latif.
Siapa dia? Imam Khalid Latif bukan nama baru. Ia sudah lama jadi Direktur Eksekutif dan Chaplain di Islamic Center Universitas New York (NYU). Sejak 2005, pria ini dikenal berhasil mengubah komunitas Muslim di kampus itu. Di bawahnya, NYU jadi salah satu pusat kegiatan mahasiswa Muslim paling hidup di seluruh Amerika.
Doa yang ia panjatkan saat itu terdengar kuat. Berikut cuplikannya:
"Ya Allah, Ya Rahman, Ya Arhamarrahimin – Wahai Zat Yang paling Pengasih dari semua yang Pengasih, Kami menghadap kepada-Mu pada hari ini dari kota kami dengan hati yang penuh harapan. Terima kasih atas momen ini."
Ia melanjutkan, bersyukur atas berkumpulnya orang-orang luar biasa dengan warna kulit, bahasa, dan perjalanan hidup yang berbeda-beda. Tapi, kata dia, mereka bersatu oleh satu harapan: membangun sesuatu yang bermakna dan abadi. Sesuatu yang berakar pada cinta, martabat, rasa hormat, dan keadilan. "Bukan lagi untuk segelintir orang, tetapi untuk semua," ujarnya.
Doanya kemudian menyentuh akar perjuangan. Menurutnya, momen bersejarah seperti ini tidak jatuh dari langit. Ini hasil dari pengorbanan, organisasi, dan keberanian banyak orang yang menolak menerima keadaan begitu saja.
"Kami datang dengan kesadaran bahwa hari ini berdiri di atas pundak begitu banyak orang yang disuruh menunggu giliran mereka, meredam tuntutan mereka, menurunkan harapan mereka," lanjut Latif.
Ia menyebut mereka memilih untuk percaya bahwa New York yang lain mungkin terjadi. Keyakinan itu, tegasnya, diwujudkan oleh para penyewa yang melawan penggusuran, pekerja yang menuntut upah adil, orang tua yang memperjuangkan anaknya, dan komunitas yang bertahan meski peluang tipis.
Ritme doanya kemudian mengalir, menggambarkan kota yang membentuk hati warganya. Dari kebisingan, lingkungan, kereta bawah tanah, hingga mimpi yang diungkap dalam berbagai bahasa di blok-blok yang ramai.
"Kami berterima kasih kepada-Mu untuk Kota New York. Untuk tempat yang telah mengajarkan kepada dunia bagaimana perbedaan dapat menjadi kekuatan, bagaimana kelangsungan hidup dapat menjadi solidaritas, bagaimana orang asing dapat menjadi tetangga."
Penutup doanya punya pesan yang dalam. Kota ini, katanya, mengajarkan bahwa seorang pemuda, imigran, sosialis demokrat, dan Muslim bisa maju dan menang. Bukan dengan meninggalkan keyakinan, tapi justru dengan berdiri teguh di dalamnya. Bukan dengan mengecilkan jati diri, melainkan dengan percaya bahwa keaslian diri bisa menggerakkan kota menuju keadilan.
Rekaman lengkap momen tersebut bisa disimak pada video di atas.
Artikel Terkait
Persib Kokohkan Puncak Klasemen Usai Kalahkan Persita 1-0
KAMMI Serahkan Hasil Panen Beras Sambas ke Mentan, Buktikan Peran Pemuda dalam Ketahanan Pangan
IHSG Melemah Tipis, Analis Soroti Level Kunci 8.170 untuk Tren Berikutnya
Kemenag Tegaskan Aturan Pengeras Suara Masjid Sudah Ada, Tanggapi Protes WNA di Gili Trawangan