600 Hunian Darurat Tuntas di Aceh Tamiang, BRI dan BUMN Pacu Pembangunan

- Jumat, 02 Januari 2026 | 11:30 WIB
600 Hunian Darurat Tuntas di Aceh Tamiang, BRI dan BUMN Pacu Pembangunan

Kolaborasinya sendiri memang masif. PT Perkebunan Nusantara III menyediakan lahannya. Sementara, tujuh BUMN Karya dipimpin PT Hutama Karya sebagai koordinator lapangan terlibat langsung dalam konstruksi dengan sistem modular yang cepat. Dukungan infrastruktur dasar datang dari PLN untuk listrik dan Telkom untuk konektivitas. Di sisi pendanaan dan logistik, Himbara (Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, BSI) mengerahkan sumber dayanya.

Menurut Dony Oskaria, COO Danantara Indonesia, kunci keberhasilannya ada pada disiplin eksekusi dan intensitas kerja yang tinggi untuk mengejar waktu yang sangat terbatas.

“Ini adalah contoh konkret bagaimana BUMN menjalankan peran strategisnya sebagai perpanjangan tangan negara, bukan hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga pada kepentingan sosial dan kemanusiaan,” ujarnya.

Dari sisi BRI, komitmen ini adalah bagian dari rangkaian panjang upaya mereka. Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyatakan dukungan untuk Huntara adalah wujud nyata kontribusi bank dalam pemulihan pascabencana.

“Huntara memiliki fungsi penting sebagai tempat tinggal transisi yang aman, layak, dan manusiawi. Melalui kontribusinya, BRI berharap dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar tempat tinggal sambil menunggu hunian permanen,” tutur Dhanny.

Sebelum proyek Huntara ini, BRI Group sebenarnya sudah cukup aktif merespons bencana di Sumatra. Mereka telah menjalankan 40 aksi tanggap darurat, mendirikan 10 posko, dan menyalurkan bantuan mulai dari puluhan ribu paket sembako, obat-obatan, peralatan kebersihan, hingga perahu karet. Secara total, program mereka diklaim telah menjangkau lebih dari 100 ribu penerima manfaat.

Posko-posko bencana itu juga dilengkapi layanan kesehatan, dapur umum, dan yang cukup menyentuh, program Trauma Healing Anak untuk membantu pemulihan psikologis korban termuda. Kehadirannya diharapkan bisa menjadi titik terang, pusat pemulihan terpadu di masa-masa paling sulit.

Jadi, dari Aceh Tamiang, ceritanya lebih dari sekadar angka 600 atau 15.000 unit hunian. Ini tentang bagaimana kerja sama yang solid dan eksekusi cepat bisa memberikan harapan, sekaligus pondasi, untuk membangun kembali kehidupan yang porak-poranda.


Halaman:

Komentar