Tjandra menjelaskan, istilah yang ramai dibicarakan itu sebenarnya merujuk pada penyakit flu akibat virus influenza A H3N2 sub clade K. Virus ini bukan hal baru; sudah beredar sejak beberapa waktu lalu. Namun begitu, yang membuatnya heboh dan jadi sorotan adalah dampaknya di Amerika Serikat, di mana virus ini memicu lonjakan kasus rawat inap yang signifikan.
Bukan cuma di AS. Peningkatan kasus di Jepang dan Kanada pada Oktober lalu juga didorong oleh H3N2. Kemungkinan besar, tren serupa terjadi di negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.
Di sisi lain, langkah pencegahan tetap bisa dilakukan. Ahli kesehatan dari Universitas Indonesia, dr. Ngabila Salama, menekankan pentingnya vaksinasi sebagai salah satu tameng.
"Cegah Super Flu vaksinasi flu 1 tahun sekali terutama untuk kelompok rentan yang jika kena flu bisa pneumonia dan meninggal (parah): bayi di atas 6 bulan, balita, ibu hamil, lansia, tenaga kesehatan, orang dengan komorbid HT, DM, penyakit jantung, kanker, autoimun, HIV, TBC, alergi / asma, riwayat terpapar asap rokok, dan lain-lain,"
tutur Ngabila.
Jadi, meski datanya terlihat, kewaspadaan dan upaya proteksi diri terutama bagi yang paling rentan tetap jadi kunci utama.
Artikel Terkait
Menara Putih Damaskus: Titik Temu Nabi Isa dan Pasukan Terakhir
Rob Genangi Jalan Depan JIS, Pintu Air Pasar Ikan Siaga Bahaya
Panda Nababan Ungkap Perannya Bebaskan Adik Prabowo dari Rutan
Pondok Pesantren Darul Mukhlisin Mulai Bangkit dari Reruntuhan Banjir Bandang