Dari satu pintu ke pintu lain, ia mendengar langsung keluhan warga. Isunya beragam, mulai dari biaya hidup yang mencekik, sulitnya mengakses layanan kota, sampai ketidakpastian ekonomi yang menghantui banyak keluarga. Suasana dialog itu cair, jauh dari kesan formal.
Di sisi lain, langkah pertama Mamdani ini jelas punya maksud. Bukan sekadar pencitraan. Ia percaya, kepercayaan publik harus dibangun dari bawah. Dengan turun dan mendengar sendiri jeritan warga, ia berharap setiap kebijakan yang nantinya lahir dari Balai Kota benar-benar menyentuh kebutuhan nyata. Bukan sekadar angka di atas kertas.
New York menanti. Agenda agresifnya baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Menara Putih Damaskus: Titik Temu Nabi Isa dan Pasukan Terakhir
Rob Genangi Jalan Depan JIS, Pintu Air Pasar Ikan Siaga Bahaya
Panda Nababan Ungkap Perannya Bebaskan Adik Prabowo dari Rutan
Pondok Pesantren Darul Mukhlisin Mulai Bangkit dari Reruntuhan Banjir Bandang