Di tangga Balai Kota yang ikonik itu, Zohran Mamdani resmi mengangkat sumpah. Ia kini adalah Wali Kota New York City. Dalam pidato pelantikannya yang disaksikan publik, politisi dari Partai Demokrat ini berjanji akan menjalankan agenda yang ambisius. Intinya sederhana: membuat kota terbesar di Amerika ini lebih bisa dijangkau oleh para pekerja.
Namun begitu, janji di atas panggung itu langsung diujinya di lapangan. Di hari pertama menjabat, Mamdani memilih untuk blusukan. Tujuannya? Kawasan permukiman padat di kota yang sama. Ia tak mau hanya berkutat di balik meja.
“Sewa mahal sekali, Pak. Gaji nggak pernah naik,” keluh seorang ibu kepada Mamdani di salah satu apartemen yang dikunjunginya. Percakapan seperti ini yang dicarinya.
Dari satu pintu ke pintu lain, ia mendengar langsung keluhan warga. Isunya beragam, mulai dari biaya hidup yang mencekik, sulitnya mengakses layanan kota, sampai ketidakpastian ekonomi yang menghantui banyak keluarga. Suasana dialog itu cair, jauh dari kesan formal.
Di sisi lain, langkah pertama Mamdani ini jelas punya maksud. Bukan sekadar pencitraan. Ia percaya, kepercayaan publik harus dibangun dari bawah. Dengan turun dan mendengar sendiri jeritan warga, ia berharap setiap kebijakan yang nantinya lahir dari Balai Kota benar-benar menyentuh kebutuhan nyata. Bukan sekadar angka di atas kertas.
New York menanti. Agenda agresifnya baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Kejagung Dukung Wacana Pembentukan Unit Penyidikan HAM di Komnas HAM
Tiga Warung Legendaris Sop Kikil di Makassar dan Resep Autentiknya
Ekonom Soroti Fenomena Working Poor di Kalangan Generasi Z Indonesia
Makassar dan Sekitarnya Diimbau Waspada Hujan Sepanjang Sabtu