Ironi Mayoritas: Mengapa Figur Religius Selalu Kalah dalam Panggung Politik Indonesia?

- Jumat, 02 Januari 2026 | 07:25 WIB
Ironi Mayoritas: Mengapa Figur Religius Selalu Kalah dalam Panggung Politik Indonesia?

Tapi ya, survei bukan segalanya. Ada batasan sampling, bias sponsor, dan faktor undecided voters yang bisa berubah drastis di hari pencoblosan. Pilpres 2019 contohnya, beberapa prediksi cukup akurat, tapi itu lebih karena mengikuti tren yang sudah ada.

Lalu, Strategi Umat Islam Harus Bagaimana?

Sebenarnya, kalau dicermati, hampir setiap lima tahun ada semacam konsensus di kalangan tokoh Islam. Di 2014 dan 2019, mayoritas lebih memilih Prabowo. Di 2024, pilihan itu jatuh pada Anies Baswedan.

Pertanyaannya, kenapa pilihan mereka seringkali kalah? Jawabannya kompleks, tapi satu hal yang jelas: umat Islam kerap kalah strategi. Kelompok lain, selain punya akses pendanaan triliunan rupiah, juga jago memecah suara umat. Tak jarang, meski banyak tokoh mendukung calon X, selalu ada saja yang muncul mendukung calon Y dengan dukungan dana yang tak sedikit.

Partai-partai pun cenderung pragmatis. Mereka lebih sering bergelayut pada calon yang didukung konglomerat, ketimbang berpegang pada ideologi. Media mainstream? Ceritanya tak jauh beda. Dukungan mereka sering sejalan dengan aliran dana iklan, bukan prinsip.

Pilpres 2024 kemarin sebenarnya memberi pelajaran berharga. Anies, yang mengandalkan dana swadaya masyarakat dan kekuatan media sosial, bisa mendapat sambutan luar biasa dan suara yang signifikan. Gegap gempita di setiap kunjungannya nyata.

Tapi pada akhirnya, ia kalah dalam hal sumber daya. Dukungan pemerintah yang sedang berkuasa waktu itu dengan bansos triliunan dan pengerahan aparat sungguh massif. Ditambah lagi, dukungan penuh dari kalangan konglomerat. Banyak yang menduga, tanpa intervensi itu, hasilnya bisa saja berbeda.

Ke depan, pola seperti ini tidak boleh terulang di 2029. Penggunaan bansos dan netralitas aparat harus diawasi ketat. Di sisi lain, tokoh-tokoh Islam dan masyarakat harus lebih sinergis. Merancang strategi opini, bahkan mungkin bermain cerdas di ranah survei, menjadi keharusan.

Kalau tidak, ya kita akan terus menyaksikan ironi yang sama: negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dipimpin oleh figur yang dianggap tak peduli agama. Dan pemimpin seperti itu, menurut keyakinan banyak orang, sulit membawa negeri ini ke arah keadilan dan kemakmuran yang sejati.

Wallahu azizun hakim.

Nuim Hidayat,
Direktur Forum Studi Sosial Politik.


Halaman:

Komentar