Dua Al-Quran dan Sebuah Sumpah: Kisah di Balik Pelantikan Bersejarah Wali Kota New York

- Jumat, 02 Januari 2026 | 05:40 WIB
Dua Al-Quran dan Sebuah Sumpah: Kisah di Balik Pelantikan Bersejarah Wali Kota New York

Izinkan Saya Bercerita Tentang Dua Al-Quran di Pelantikan Walikota New York

Oleh SHAUN KING (Aktivis Muslim AS)

Belum genap setahun lalu, Zohran Mamdani berbicara di sebuah ruangan yang hampir tak ada yang mendengarkan. Sekarang, dia resmi menjadi Walikota New York City. Dan cara dia mengucapkan sumpah jabatan tadi malam itu pesan keras untuk dunia tentang siapa sebenarnya yang punya tempat di kota ini.

Ini bukan sekadar angkat tangan dan ucap janji. Zohran meletakkan tangannya di atas dua kitab suci Al-Quran. Masing-masing membawa cerita dan bobot sejarahnya sendiri. Layak untuk kita pahami.

Mari kita bahas.

Laporan apik dari Associated Press lewat Safiyah Riddle mengupas lapisan-lapisan di balik pilihan Zohran. Judulnya sederhana: Zohran Mamdani, Walikota Muslim Pertama NYC, Dilantik dengan Al-Quran. Tapi cerita di baliknya jauh lebih besar. Dia memilih Al-Quran yang menyambungkan Muslim New York dengan komunitas kulit hitam, para imigran, kelas pekerja, dan narasi panjang kehadiran Islam di kota yang tak pernah putus ini.

Upacara tengah malam itu digelar di bawah tanah, tepatnya di stasiun kereta bawah tanah Balai Kota lama. Letitia James memimpin sumpah. Dengan tangan kiri, Zohran menyentuh dua Al-Quran yang dipegang istrinya, Rama Duwaji. Satu adalah milik kakeknya. Satunya lagi, Al-Quran kecil berukuran saku yang dipinjam dari Pusat Penelitian Budaya Kulit Hitam Schomburg, bagian dari Perpustakaan Umum New York.

Kalau Anda bertanya-tanya kenapa ini penting, saya coba jelaskan dengan sederhana.

Schomburg itu bukan cuma perpustakaan biasa. Tempat itu adalah jantung kehidupan intelektual kulit hitam. Sebuah arsip hidup yang menyimpan sejarah dan pencapaian mereka. Di sanalah New York menyimpan kenangan-kenangan paling berharganya. Jadi, ketika Walikota Muslim pertama kota ini bersumpah dengan Al-Quran dari koleksi Schomburg, ini bukan sekadar "pencitraan keberagaman". Ini pernyataan lantang. Sejarah kulit hitam dan sejarah Muslim di New York bukan dua aliran yang terpisah. Mereka menyatu.

Nah, Al-Quran dari Schomburg ini diperkirakan berasal dari akhir abad ke-18 atau awal ke-19, masa Kesultanan Utsmaniyah. Para ahli menebak usianya dari sampul dan gaya tulisan karena tidak ada tanggal atau tanda tangan. Sederhana saja sampulnya merah tua, desainnya polos, tulisannya jelas. Kemungkinan besar dibuat untuk dipakai sehari-hari, bukan untuk dipajang. Al-Quran untuk rakyat biasa.

Saya suka sekali detail yang satu ini.

Orang-orang yang selalu merasa terancam oleh Islam di Amerika, mereka jugalah yang selama ini takut pada literasi, pengetahuan, dan martabat orang kulit hitam. Mereka khawatir dengan apa yang terjadi ketika rakyat biasa diberi akses untuk membaca, belajar, dan bersuara. Al-Quran Schomburg itu simbol persis dari hal itu: sebuah kitab untuk rakyat biasa, disimpan di perpustakaan umum, dan kini hadir di pusat kekuasaan kota terbesar Amerika.

Zohran juga akan memakai Al-Quran kakek-neneknya untuk upacara lanjutan di Balai Kota. Itu juga punya makna mendalam. Itu pengingat bahwa warisan yang kita bawa bukan cuma budaya. Tapi juga iman, kenangan, bahasa, pengorbanan, dan cerita keluarga yang tak bisa dimasukkan ke dalam kotak-kotak kecil versi Amerika.


Halaman:

Komentar