Hari pertama tahun 2026 di Ragunan sama sekali tidak sepi. Sejak pagi, suasananya sudah ramai. Bukan dengan dentum kembang api, tapi dengan riuh rendah tawa anak-anak dan gemerincing roda sepeda yang bergerak pelan. Di bawah kanopi pepohonan yang rindang, taman margasatwa itu menjelma jadi ruang perayaan keluarga.
Arus pengunjung bergerak dalam banyak ritme. Ada yang naik sepeda, ada juga yang jalan kaki santai menikmati teduhnya udara. Sesekali, mobil buggy melintas membelah lautan manusia. Di beberapa sudut, terlihat tikar-tikar warna-warni dibentangkan. Bekal dibuka, botol minum dioper dari tangan ke tangan, sementara tawa riang anak-anak menyelinap di antara desir angin.
Menjelang siang, perhatian orang-orang mulai terpusat. Pukul dua belas tepat, saat jam makan satwa tiba, menjadi magnet utama. Di kandang buaya, misalnya, kerumunan langsung memadat. Air yang tenang tiba-tiba beriak. Kamera ponsel serentak terangkat, diselingi suara orang tua yang berteriak, "Jangan terlalu dekat, Nak!"
Tak jauh dari situ, seekor Harimau Sumatera bergerak sunyi. Ia menelusuri setiap sudut kandangnya, mencari potongan daging yang sengaja disembunyikan penjaga di balik tumpukan kayu. Sebuah tontonan tentang naluri liar, tapi dipertunjukkan dengan cara yang tertib dan aman.
Di tengah kerumunan itu, Kiki (34) berdiri sambil menimang anaknya yang baru berusia satu setengah tahun. Wajah bocah itu ceria, matanya yang tajam mengikuti setiap gerak satwa. Bagi Kiki, Ragunan lebih dari sekadar tempat liburan akhir pekan.
"Dari Cibitung, naik motor bertiga sama anak," ujarnya.
Mereka sengaja datang sejak pukul sepuluh pagi. Niatnya cuma satu: mengenalkan aneka satwa kepada buah hatinya di hari pertama tahun baru.
"Iya lihat-lihat binatang dia ini. Emang sengaja ke sini buat anak. Buat ngenalin binatang ke dia," jelas Kiki.
Namun begitu, keramaian adalah konsekuensi yang harus diterima. Antrean kendaraan di gerbang masuk mengular panjang, jauh ke luar pintu.
"Macet, macet banget pas pintu masuk," keluhnya.
Meski bukan pengunjung baru, suasana hari itu terasa lain baginya. Padatnya pengunjung jauh melampaui kunjungan-kunjungannya sebelumnya.
"Saya sudah lama nggak ke Ragunan. Ini baru ke sini lagi setelah punya anak, tapi dulu nggak seramai ini. Mungkin ini emang karena liburan tahun baru ya," tuturnya.
Di lokasi lain, Saipuloh (36) berdiri bersama istri dan anaknya yang masih PAUD. Mereka memilih menepi, memberi ruang bagi si kecil untuk mengamati kandang dengan leluasa. Baginya, Ragunan adalah pilihan liburan yang sederhana dan pas.
"Ya bisa aja sekalian anak ngajak liburan, mumpung libur sekolah. Terus sekalian, ya liburan aja lah," kata Saipuloh dengan santai.
Soal pilihan destinasi, pria ini punya pertimbangan sendiri. Ia bilang sudah pernah coba tempat wisata serupa.
"Oh, udah pernah. Ini ke sini aja belum ini. Belum," ujarnya.
Ia bahkan sudah hafal jadwal atraksi pemberian makan. Di hari itu, harapannya sederhana: melihat sebanyak mungkin satwa.
"Semuanya semua kalau bisa mah lihat semua semua jenis binatang yang ada di sini," harapnya.
Menurut Saipuloh, Ragunan punya keunggulan yang nyata. Ruang hijaunya lebih luas, udaranya lebih sejuk.
"Oh beda. Salah satunya di sini tempatnya juga agak... ini juga rimbun ya, enak. Lebih rimbunan di sini, tempatnya adem," ucapnya, membandingkan dengan kebun binatang lain yang pernah dikunjunginya.
Begitulah. Tahun baru 2026 di Ragunan dimulai di antara sorak kecil anak-anak, langkah kaki yang tak henti, dan tatapan penuh hormat pada sang penghuni kandang. Di balik jeruji, naluri alamiah tetap bekerja. Sementara di luar pagar, keluarga-keluarga itu menyimpan kenangan sederhana, mengawali tahun dengan cara yang mungkin paling hangat: bersama.
Artikel Terkait
IHSG Terkoreksi, Analis Masih Lihat Peluang Rally ke Level 8.440
DJP Resmi Ingatkan Publik Waspadai Gelombang Penipuan Berkedok Institusi Pajak
HIPMI Soroti Penyusutan Kelas Menengah Pengusaha di Sidang Pleno Makassar
Tembok Mewah Ambruk di Kalibata, Halaman SMPN 182 Rusak Parah