Prabowo Soroti Bor Air dan Tangki: Solusi Air Bersih Aceh Tamiang Ditilik Ulang

- Kamis, 01 Januari 2026 | 14:24 WIB
Prabowo Soroti Bor Air dan Tangki: Solusi Air Bersih Aceh Tamiang Ditilik Ulang

Ketersediaan air bersih di Aceh Tamiang jadi perhatian serius Presiden Prabowo Subianto. Dalam kunjungannya ke daerah yang baru saja dilanda banjir dan longsor itu, ia terus mendesak agar kebutuhan dasar warga ini segera terpenuhi. Bukan cuma sekadar tersedia, tapi juga layak untuk dikonsumsi.

Rupanya, upaya penyediaannya sudah berjalan dengan berbagai cara. Mulai dari mendatangkan air pakai mobil tangki sampai dengan pengeboran tanah untuk mencari sumber air baru. Tapi, Prabowo tampaknya ingin data yang lebih konkret dan jelas.

"Mengenai air bersih di mana titik-titik air ataupun apa itu, bor air? Sudah berapa yang di Tamiang yang dibangun, dikirim, mungkin KSAD (bisa menjelaskan)," tanyanya dalam rapat terbatas di Aceh Tamiang, Kamis lalu.

Rapat yang dihadiri sederet pejabat tinggi ini langsung direspons KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak.

"Terima kasih Pak, kami dari Angkatan Darat saja 129 titik," kata Maruli.

"129 titik bor air?" Prabowo menyelak, memastikan.

"Siap, dari BNPB melalui Pusterad juga ngebor, kepolisian saya kira sudah ratusan sampai kami di grup itu ada banyak pak," ucap Maruli.

Namun begitu, Presiden masih belum puas. Pertanyaannya lebih mendasar lagi.

"Itu bor air bisa untuk air minum?" tanyanya sekali lagi.

Maruli terdiam sejenak. Suasana ruangan pun hening. Akhirnya, Kepala BNPB Suharyanto angkat bicara menerangkan.

"Izin bapak, jadi ada beberapa skema itu, yang dibangun Polri kedalaman 20-40 meter airnya hanya untuk membersihkan, kemudian dibangun Pusterad kami yang membiayai," jelas Suharyanto.

"Pusterad?" Prabowo belum paham akronim itu.

"Pusat Teritorial Angkatan Darat, itu kedalaman 100-200 meter itu yang untuk minum. Jadi semua sudah dilakukan memang masih kurang, dilaksanakan terus untuk sehari-hari masih cukup karena mobil tangki air terus jalan," lanjutnya.

Di sinilah Prabowo mulai mengkritik. Ia mempertanyakan efisiensi pengiriman air dengan tangki yang menurutnya boros BBM. Solusi pengeboran, meski mahal di muka, justru lebih ia sukai.

"Ya kalau tangki air itu kita keluar BBM lagi. Itu kalau 100 meter biayanya berapa per bor?" tanyanya.

"Rp 150 juta, Rp 100-150 juta," jawab Suharyanto.

"Lengkap?"

"Lengkap bapak, sampai instalasi air kemudian ada tangki air dan bisa langsung diambil masyarakat," timpalnya.

Maruli kemudian menambahkan soal tantangan teknisnya. Proses pengeboran ternyata tidak instan, sangat tergantung kondisi tanah di lapangan. Bisa cuma dua minggu, bisa juga lebih lama dari itu.

Mendengar angka Rp 150 juta per titik, Prabowo justru berkomentar lain.

"Maaf ya kalau 1 bor Rp 150 juta itu saya anggap relatif murah," ujarnya. "Saya tahu, tapi termasuk ongkos pekerja enggak? Atau pakai tentara enggak dibayar?"

Suharyanto menegaskan bahwa pekerjaannya tetap dibayar. Menurut pengalaman Prabowo sendiri di masa lalu, angka segitu memang terhitung wajar.

Menjelang akhir diskusi, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan langkah baru. Sudah dibentuk Satgas Kuala yang khusus menangani masalah air di daerah itu. Dalam dua pekan ke depan, satgas ini akan bekerja dengan dua kapal yang dilengkapi water treatment system untuk mengolah air langsung dari sungai.

"Sehingga air yang ada di Kuala kita ambil, kita olah sehingga jadi air jernih," papar Sjafrie.

Prabowo pun menyambut baik rencana ini. "Bagus, koordinasi sama gubernur ya daerah masing-masing semua," pesannya menutup pembahasan. Persoalan air di Aceh Tamiang, tampaknya, masih akan terus dipantau dari dekat.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar