Dalam rapat koordinasi di Aceh Tamiang kemarin, Kamis (1/1), Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengungkap sebuah fenomena menarik. Ternyata, tidak semua korban bencana di Sumatera ingin mengungsi di lokasi yang sudah ditetapkan pemerintah. Banyak di antara mereka justru punya keinginan untuk membangun hunian sementara secara mandiri, di tempat yang mereka pilih sendiri.
"Kemudian hunian sementara juga, Bapak, kami laporkan, banyak masyarakat juga yang ingin hunian sementara mandiri, Bapak," kata Suharyanto.
Menurutnya, pola penanganan biasanya memang memusatkan pembangunan hunian darurat di titik-titik tertentu. Namun begitu, realita di lapangan berbicara lain. Ada permintaan dari warga agar pembangunan dilakukan terpisah, di dekat rumah mereka yang rusak. Permintaan ini pun akhirnya dilayani.
"Jadi tidak mau masuk dalam satu titik yang ditentukan. Ini pun kami layani, Bapak. Jadi di titik-titik yang masyarakat terdampak, rumahnya rusak, rusak berat, kemudian tidak mau masuk ke titik yang terpusat, itu dibangun secara terpisah-pisah, Bapak. Ini sudah mulai dibangun," paparnya lebih rinci.
Dari sisi ketersediaan, BNPB sendiri telah menyebarkan 450 unit hunian sementara. Angka itu bertambah lagi dengan penyerahan 600 unit lainnya dari Danantara kepada pemerintah daerah hari ini. Artinya, pilihan tempat tinggal sementara bagi warga kini semakin banyak.
"Jadi per hari ini yang terbangun adalah 1.050 unit, Bapak," ungkap Suharyanto, merangkum total bantuan yang sudah ada di lapangan.
Di sisi lain, ceritanya tidak berhenti di situ. Suharyanto juga menyebut ada kelompok korban yang mengambil pilihan berbeda: mereka menolak sama sekali hunian dari pemerintah. Untuk warga-warga ini, pemerintah punya skema kompensasi lain berupa bantuan tunai.
"Per kepala keluarga mendapat anggaran per bulan Rp 600.000 kali 3 bulan, Bapak. Desember, Januari, Februari, sudah tersalur sebesar 11.414 orang," beber dia.
Dana yang sudah dikucurkan tidak sedikit. "Jadi jumlah yang sudah disalurkan Rp 20.545.200.000," sambungnya. Sebuah angka yang menggambarkan betapa kompleks dan beragamnya kebutuhan para penyintas bencana.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Siap Kirim 8.000 Personel untuk Pasukan Penjaga Perdamaian di Gaza
KPK Buka Ruang Klarifikasi Proaktif untuk Menag Soal Penggunaan Jet Pribadi OSO
Jenazah Dua Remaja Korban Tenggelam di Sungai Grobogan Ditemukan Tim SAR
Trump Puji Prabowo sebagai Pemimpin Tangguh di Forum Perdamaian Gaza