“Ekonomi global belum stabil dan daya beli masyarakat masih turun. Tidak bijak menambah beban pajak baru. Yang penting APBN tetap aman,”
tegas Purbaya.
Jadi, langkah konkretnya apa? Mereka akan memperketat pengeluaran kementerian dan lembaga, mengawasi kas negara tiap hari, dan mencari sumber dana alternatif. Misalnya, dari dana yang nggak terserap di berbagai kementerian atau dari hasil penindakan hukum dan sitaan aset negara.
Sebenarnya, tekanan ini sudah terasa sejak awal tahun. Pemulihan ekonomi nasional yang belum benar-benar solid bikin pencapaian pajak ikut merosot. Beberapa sektor kunci, seperti perdagangan dan industri pengolahan, mengalami perlambatan. Kontribusi pajak dari korporasi pun mandek karena margin usaha mereka tergerus.
Belum lagi faktor eksternal. Melemahnya permintaan ekspor dan berbagai gejolak geopolitik global turut memukul penerimaan dari bea dan cukai. Alhasil, pemerintah pun terpaksa mengandalkan pembiayaan utang, tapi dengan sangat hati-hati, agar defisit tidak jebol batas.
Meski begitu, Purbaya berusaha menenangkan. Ia yakin defisit APBN 2025 masih bisa dikendalikan di bawah angka 3 persen. Syaratnya satu: pemerintah harus disiplin menekan belanja-belanja yang tidak benar-benar prioritas. Tantangannya sekarang adalah mewujudkan komitmen itu di tengah berbagai ketidakpastian yang masih membayangi.
Artikel Terkait
Korban Tewas Banjir dan Longsor Sumatera Tembus 1.154 Jiwa, 165 Masih Hilang
Ragunan Ramai di Hari Pertama 2026, Keluarga Berbondong Kenalkan Satwa pada Anak
ManTab dan Susutnya Kelas Menengah: Ketika Tabungan Habis untuk Bertahan Hidup
Guru Mengaji di Jeneponto Cabuli Enam Santriwati, Pelaku Ditahan