Beberapa hari lalu, aku nemu video TikTok yang bikin aku berhenti sejenak. Isinya cuma satu kalimat, tapi rasanya seperti ditampar. "Kalau kamu nggak meluangkan waktu untuk mengenal diri sendiri," begitu katanya, "orang lain yang akan membuatmu menerima apa yang mereka katakan."
Dan ya, itu benar-benar nyangkut di kepala. Seberapa sering sih, kita membiarkan hal itu terjadi? Tanpa sadar, kita biarkan dunia luar teman, keluarga, bahkan orang asing menentukan identitas kita.
Coba pikirkan baik-baik. Jika kamu sendiri malas menggali apa yang kamu suka, apa prinsipmu, atau apa yang bikin matamu berbinar, ya sudah. Orang lain dengan senang hati akan mengisi kekosongan itu untukmu. Mereka akan menentukannya.
Yang bikin merinding, prosesnya seringkali samar. Nggak dramatis. Tiba-tiba saja, di suatu pagi, kamu terbangun dan ngeh: hidup yang kamu jalani selama ini ternyata cuma rangkuman dari ekspektasi orang. Bukan keinginanmu sendiri.
Ambil contoh sederhana. Saat ada yang bilang, "Kamu terlalu sensitif," tanpa sadar kamu mulai menahan perasaan. Menutupinya.
Atau ketika orang berkomentar, "Kamu kok pendiam banget," kamu memaksakan diri jadi lebih cerewet. Padahal dalam hati, rasanya nggak nyaman dan dipaksakan.
Untuk apa semua pertunjukan itu? Cuma supaya disukai? Atau sekadar agar diterima?
Intinya begini: tidak seorang pun punya hak untuk mendefinisikan kamu. Bukan teman-teman dekatmu, bukan orang tua, apalagi standar masyarakat yang kadang nggak jelas. Hanya kamu sendiri.
Namun begitu, mengklaim hak itu butuh perjuangan. Butuh nyali untuk benar-benar duduk berdua dengan diri sendiri, menghadapi pertanyaan yang nggak enak, dan jujur total tentang siapa kamu dan apa yang kamu mau.
Artikel Terkait
Ragunan Lumpuh, Libur Tahun Baru Picu Antrean Mobil 1,3 Kilometer
Prabowo Awali Tahun Baru dengan Tinjau Huntara di Aceh Tamiang
Prabowo Rayakan Malam Tahun Baru di Tengah Pengungsian Batang Toru
Dari London hingga Kyiv: Wajah Dunia Menyambut 2026