Satu-satunya Nama yang Dijawab Telepon: Kisah Pria yang Menjadi Pelabuhan Terakhir Anak-Anak Sekarat

- Kamis, 01 Januari 2026 | 06:00 WIB
Satu-satunya Nama yang Dijawab Telepon: Kisah Pria yang Menjadi Pelabuhan Terakhir Anak-Anak Sekarat

"

Di sudut sofa ruang tamu Bzeek, gadis itu duduk bersandar pada bantal. Rambut cokelatnya yang panjang dan tipis diikat ekor kuda. Alisnya terbentuk sempurna, melengkung di atas mata abu-abu yang kosong menatap ke ruang hampa.

Atas alasan kerahasiaan, identitasnya tidak bisa diungkap. Tapi izin khusus dari pengadilan memungkinkan "The Times" untuk menghabiskan waktu di rumah Bzeek dan berbicara dengan orang-orang yang terlibat dalam kasus anak angkatnya ini.

Kepalanya terlihat terlalu kecil untuk tubuhnya yang hanya berbobot 34 pon juga terlalu kecil untuk usianya yang enam tahun. Menurut Dr. Suzanne Roberts, dokter anaknya di Rumah Sakit Anak Los Angeles, gadis ini lahir dengan ensefalokel. Itu kelainan langka di mana sebagian jaringan otak menonjol keluar melalui celah di tengkorak. Tak lama setelah lahir, ahli bedah saraf mengangkat jaringan yang menonjol itu. Tapi sebagian besar otaknya tetap tidak berkembang.

Bzeek sudah merawatnya sejak ia berusia satu bulan. Sebelumnya, tiga anak lain dengan kondisi serupa juga pernah ia asuh.

“Bagi anak-anak seperti ini,” katanya pelan, “ini adalah hukuman seumur hidup.”

Bzeek, pria 62 tahun bertubuh gemap, berjanggut panjang dan gelap, bicaranya selalu lembut. Ia adalah anak tertua dari sepuluh bersaudara. Pertama kali datang ke Amerika Serikat dari Libya sebagai mahasiswa pada 1978.

Pengalaman pertama kehilangan anak asuh yang sakit menimpanya pada 1991. Waktu itu, anak tersebut adalah bayi dari seorang pekerja pertanian yang hamil dan tanpa sengaja menghirup pestisida beracun dari penyemprotan udara. Bayi itu lahir dengan kelainan tulang belakang, seluruh tubuhnya digips. Ia belum genap setahun ketika meninggal pada 4 Juli 1991 tepat saat keluarga Bzeek sedang sibuk menyiapkan makan malam.

“Kematian gadis kecil itu… sangat menyayat hati,” kenang Bzeek, matanya menerawang pada foto seorang bayi berbaju putih berenda, terbaring di peti mati kecil yang dikelilingi bunga-bunga kuning.

Di pertengahan tahun 90-an, keluarga Bzeek akhirnya membuat keputusan besar. Mereka memutuskan untuk fokus merawat anak-anak yang sakit parah, yang bahkan sudah memiliki perintah ‘do not resuscitate’ karena nyaris tak ada orang lain yang mau menerima mereka.


Halaman:

Komentar