Meme dan Kebencian: Jejak Ekstremisme Sayap Kanan di Kalangan Pelajar Indonesia

- Rabu, 31 Desember 2025 | 06:06 WIB
Meme dan Kebencian: Jejak Ekstremisme Sayap Kanan di Kalangan Pelajar Indonesia

Tanggal 23 Desember 2025 lalu, Densus 88 menangkap seorang pelajar SMK berusia 18 tahun. Dugaan polisi, remaja ini sudah terpapar paham neo-Nazi. Operasi ini bukan cuma soal penangkapan biasa. Ia menandai pergeseran yang cukup signifikan: kalau dulu kita lebih sering dengar soal radikalisasi jihadis, kini ekstremisme sayap kanan mulai merambah anak muda.

Menurut sejumlah saksi dan tetangganya, pelajar ini punya keahlian linguistik yang mencolok. Dia disebut-sebut bisa berbicara dalam bahasa Jepang dan Arab, bahkan diduga menguasai hingga tujuh bahasa asing. Barang bukti yang diamankan juga mengarah pada keterlibatannya dalam jaringan digital yang aktif menyebarkan konten ekstrem berbahaya.

Operasi ini diduga kuat terkait dengan rangkaian penyidikan ledakan bom di SMA Negeri 72 Jakarta, yang mengguncang kita semua pada 7 November 2025.

Tragedi di SMAN 72 mungkin sudah berlalu. Tapi dampaknya lebih mengerikan dari sekadar kerusakan fisik. Di antara puing dan kepanikan waktu itu, polisi menemukan simbol-simbol yang seharusnya asing di sini: ikonografi supremasi kulit putih. Agak membingungkan, bukan? Bagaimana mungkin simbol kebencian rasial yang diimpor dari belahan bumi Barat itu bisa mendarat di Jakarta?

Polisi menyimpulkan ini sebagai aksi peniruan kekerasan, didorong obsesi pribadi. Diagnosis itu justru membuka celah kerentanan baru yang bikin kita harus waspada. White supremacy sekarang nggak lagi menonjolkan ideologi ras secara gamblang. Ia bersembunyi di balik selubung subkultur yang estetik, yang justru dekat dengan dunia anak muda sekarang.

Jebakan Simbol dan Momentum untuk Diakui

Julia Ebner, dalam bukunya “Going Dark: The Secret Social Lives of Extremists” (2020), menemukan pola yang menarik. Banyak anak muda yang masuk ke grup obrolan ekstremis bukan karena mereka rasis dari sananya. Mereka tertarik duluan pada simbolisasi dan subkultur yang tampak “keren” di mata mereka.

Simbol-simbol fasisme dibungkus pakai bungkus ironi dan humor gelap. Ideologi ini menyusup lewat meme, budaya internet, dan hasrat remaja untuk terlihat edgy. Meme sendiri sebenarnya netral. Limor Shifman (2014) bilang, meme itu elemen subkultur yang membangun komunitas dengan norma bersama. Nah, justru itu yang bikin dia jadi alat radikalisasi yang ampuh.

Bagi orang tua, gambar “Pepe the Frog” mungkin cuma kartun lucu atau lelucon internet biasa. Tapi di balik kelucuannya, ia bisa menormalisasi kebencian dan kekerasan. Ebner mencatat, otak anak muda bisa teradikalisasi hanya dalam hitungan minggu setelah terpapar lelucon yang mendehumanisasi kelompok lain lewat meme. Kelompok white supremacy memberi mereka rasa kebersamaan dan perasaan berdaya.

Ambil contoh kasus Daniel Harris di Inggris tahun 2022. Dia seperti penerus jejak Payton Gendron, teroris supremasi kulit putih. Bagi Harris, mengadopsi teori “the great replacement” bukan cuma soal kebencian rasial. Itu soal identitas, kuasa, dan karisma di mata sesamanya.

Di kehidupan nyata, Harris cuma remaja 18 tahun biasa. Tapi di jejaring online itu, dia dianggap pahlawan, seorang propagandis yang dihormati.

Inilah masalahnya. Jejaring ekstremis modern nggak butuh kamp pelatihan fisik di hutan lagi. Radikalisasi terjadi di ruang gema seperti Discord, Telegram, atau Twitch. Di situlah kebencian direproduksi. Buku-buku seperti The Turner Diaries atau teori konspirasi The Great Replacement diremajakan dan disesuaikan lewat meme.

Reproduksi ini melahirkan pola kekerasan yang saling meniru. Anders Breivik di Norwegia (2011) menginspirasi Brenton Tarrant di Christchurch (2019). Lalu Tarrant menginspirasi Payton Gendron di Buffalo (2022). Dan sekarang, riaknya sampai ke Jakarta Utara. Mereka mungkin nggak saling kenal. Tapi mereka disatukan oleh anatomi kebencian yang persis sama.

Dalam konteks SMAN 72, white supremacy cuma kemasan luarnya saja. Anatomi kebenciannya sebangun banget dengan ekstremisme agama atau etnonasionalisme yang sudah jamak kita lihat. Logo Black Sun (Sonnenrad), swastika, atau for agartha cuma simbol yang menghubungkan pelaku dengan identitas global itu.

Intinya, nggak peduli merek ideologinya apa, dari kutub mana pun, selama ia bisa menambal kegelisahan eksistensial dan memberi validasi instan, ia akan cepat “terjual” pada jiwa-jiwa muda yang sedang krisis. Dan sekali lagi, semua ini dirangkul tanpa sadar karena dikemas dalam simbolisasi yang gen-Z friendly.

Chris Buckley, mantan anggota Ku Klux Klan yang kini jadi aktivis perdamaian, pernah membocorkan taktik mereka.

Anak muda yang merasa terpinggirkan, yang merasa maskulinitasnya terancam, atau yang nggak punya rasa memiliki adalah mangsa empuk. Mereka butuh wadah untuk menyalurkan kemarahan dan ketakutan akan hilangnya identitas.

Kita patut gelisah. Bukan karena kita akan diinvasi ras Arya, tapi karena narasi kebencian sekarang dikemas begitu estetik untuk dikonsumsi generasi yang diasuh algoritma.

Sudah waktunya buang kenaifan. Simbol-simbol aneh yang dikonsumsi anak kita bukan cuma konten iseng belaka. Kalau anak mulai menggambar simbol Black Sun, atau bercanda tentang genosida dan supremasi ras, itu adalah sinyal darurat. Jangan diabaikan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar