Serangan Drone Guncang Kediaman Putin di Tengah Masa Genting Perundingan

- Rabu, 31 Desember 2025 | 03:36 WIB
Serangan Drone Guncang Kediaman Putin di Tengah Masa Genting Perundingan

Malam Minggu hingga Senin dini hari di Novgorod tak biasa. Rumah Presiden Vladimir Putin menjadi sasaran. Menurut laporan, tak tanggung-tanggung, 91 drone jarak jauh diluncurkan ke lokasi itu. Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov langsung menuding Ukraina berada di balik serangan skala besar ini.

Namun begitu, Lavrov tak kunjung memaparkan bukti konkret untuk mendukung tuduhannya. Yang jelas, sebagian besar drone itu berhasil dijatuhkan oleh sistem pertahanan.

Yang menarik, serangan ini terjadi di saat yang runyam: ketika kedua negara sebenarnya sedang duduk untuk bernegosiasi gencatan senjata. Situasinya jadi makin panas.

Lavrov, seperti dikutip AFP, Selasa (30/12), memberikan sinyal keras.

"Posisi negosiasi Rusia akan ditinjau ulang," katanya.

Di sisi lain, dari Amerika Serikat, Presiden Donald Trump menyatakan kekecewaannya. Usai menelepon Putin, ia tak ragu mengkritik Ukraina.

"Saya tidak menyukainya. Ini tidak baik," ujar Trump kepada para wartawan saat ditanya soal dugaan serangan itu.

"Anda tahu siapa yang memberi tahu saya tentang hal ini? Presiden Putin yang memberi tahu saya," sambungnya.

Dia menambahkan, "Ini adalah periode yang sensitif. Ini bukan waktu yang tepat."

Bantahan Keras dari Ukraina

Tentu saja, Ukraina membantah keras semua tuduhan itu. Presiden Volodymyr Zelensky menyebut klaim Moskow cuma rekayasa. Menurutnya, ini taktik Rusia untuk menggagalkan proses perdamaian yang sedang berjalan.

Pihak Ukraina juga menyoroti satu hal: Moskow dianggap lamban, bahkan tidak, dalam memberikan bukti. Padahal, hampir 24 jam telah berlalu sejak tudingan pertama dilontarkan.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiga, menulis di media sosial dengan nada kesal.

"Hampir sehari berlalu dan Rusia masih belum memberikan bukti yang masuk akal," tulisnya.

"Dan mereka tidak akan memberikannya. Karena memang tidak ada. Tidak ada serangan semacam itu."

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar