Baru setelah itu, menurutnya, intensitas modifikasi cuaca bisa dikurangi secara bertahap.
Di sisi lain, Abdul juga menyoroti akar masalah yang sebenarnya. Banjir belakangan ini, katanya, bukan semata-mata soal cuaca ekstrem. Bahkan hujan dengan intensitas biasa saja sudah cukup untuk menenggelamkan kawasan tertentu. "Ini soal daya tampung lingkungan yang sudah sangat terbatas," ungkapnya. Saluran dan sungai tak lagi mampu menampung luapan air, sekalipun curah hujannya tergolong sedang.
"Jadi, yang kita coba lakukan ini memang seperti siklus yang paradoks. Di puncak musim hujan, kita justru berupaya agar hujan tidak turun," tambahnya, mengulang sentilan "menentang alam" tadi.
Menariknya, upaya ini disebutnya membuahkan hasil. Dalam catatan BNPB, selama lebih dari sebulan terakhir di wilayah operasi, hari tanpa hujan justru lebih dominan ketimbang hari hujan. "Dalam 32-33 hari ini, proporsinya jelas. Hari kering jauh lebih banyak," tutur Abdul.
Karena itu, operasi modifikasi cuaca dipastikan akan terus berjalan. Targetnya? Sampai sistem drainase utama di wilayah rawan banjir dinilai sanggup menampung debit air dalam kondisi normal puncak hujan. "Kita akan optimalkan terus. Paling tidak, sampai kita yakin saluran-saluran primer itu sudah siap," pungkasnya.
Artikel Terkait
FAO Catat Kenaikan Harga Pangan Global Kedua Kalinya Berturut-turut
Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Perairan Mentawai, Belum Ada Laporan Kerusakan
PSM Makassar Ditahan Imbang Persis Solo 1-1 di BRI Liga 1
Minibus Mogok di Rel Ditabrak Kereta Api Putri Deli di Kisaran, Sopir Selamat