Pemerintah punya rencana konkret untuk menyelamatkan proses belajar di daerah bencana. Menurut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, sudah disiapkan tiga skenario pembelajaran yang akan diterapkan pada semester genap tahun 2026 mendatang. Rencananya, langkah ini bisa dimulai paling cepat pada bulan Februari.
“Terkait pembelajaran dalam masa sekarang, ini ada tiga skenario yang sudah kami rancang untuk nanti diterapkan di semester genap tahun 2026,” jelas Mu’ti saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa lalu.
“Insya Allah Februari sudah bisa kita mulai,” tambahnya penuh harap.
Skema ini dirancang khusus untuk menyesuaikan kondisi riil di lapangan, mulai dari situasi krisis akut hingga pemulihan jangka panjang. Daerah terdampak di Sumatera dan Aceh akan menjadi fokus penerapannya, disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat kerusakan masing-masing wilayah.
Pertama, skenario tanggap darurat yang berlaku untuk tiga bulan awal. Fase ini benar-benar darurat. Kurikulum dipangkas habis, hanya menyisakan hal-hal yang paling pokok saja.
“Untuk tanggap darurat 0 sampai 3 bulan, itu penyesuaian kurikulum minimum esensial,” ujar Mu’ti. “Kurikulum disederhanakan menjadi kompetensi esensial seperti literasi dasar, numerasi dasar, kesehatan dan keselamatan diri, dukungan psikososial, dan informasi mitigasi bencana.”
Tak cuma kurikulum yang diubah. Pemerintah juga menyiapkan bahan ajar darurat dan metode belajar yang super fleksibel. Semua diatur agar sesederhana mungkin, termasuk sistem penilaiannya.
Artikel Terkait
Karcis Parkir Tak Sesuai Picu Pengeroyokan Juru Parkir di Makassar
Proyek Wisata Green Topejawa Mangkrak, Aktivis Desak Audit Total
Kejari Barru Resmikan Mess Pegawai 16 Kamar, Dukung Program Zero Indekos
Barcelona Tumbang 0-2 dari Atletico Madrid di Leg Pertama Perempat Final