Tradisi Tahun Baru: Dari Konvoi Kembang Api hingga Doa Bersama Keluarga

- Selasa, 30 Desember 2025 | 18:36 WIB
Tradisi Tahun Baru: Dari Konvoi Kembang Api hingga Doa Bersama Keluarga

Menjelang tahun baru, acara kumpul keluarga memang selalu ditunggu-tunggu. Nggak cuma sekadar kumpul, sih. Biasanya momen ini diisi dengan berbagai kegiatan seru, mulai dari masak bersama, ngobrol ngalor-ngidul, sampai menatap langit menunggu dentuman kembang api. Setiap keluarga punya caranya sendiri untuk merayakannya.

Meski tradisinya beda-beda, yang namanya kebersamaan itu rasanya tetap sama: hangat dan bikin kangen. Nah, gimana sih cerita orang-orang lain menghabiskan malam pergantian tahun? Yuk, kita simak pengalaman beberapa di antaranya.

Cerita Seru Keluarga Menyambut Tahun Baru

Dulu, waktu masih lajang, Tania Meita Putri (28) punya ritual yang cukup unik. Akhir tahun selalu dihabiskan di rumah nenek. Acaranya standar tapi asyik: bakar-bakar jagung atau sosis di halaman, sambil obrolin segala hal.

Namun begitu, ada satu hal yang nggak pernah terlewat. Menjelang pukul setengah dua belas malam, mereka semua akan naik mobil dan berkonvoi ke arah Jembatan Tanah Abang. Tujuannya cuma satu: cari spot terbaik buat lihat kembang api. View dari sana katanya jauh lebih oke.

“Setelah menikah, 4 tahun ke belakang ini tradisinya cuma akhir tahun sama keluarga aja (suami dan anak). Biasanya habis magrib kita keluar cari makan, terus sekitar jam 20.00 cari kafe yang agak jauh dari rumah buat nongkrong sampai jam 23.00, nanti sekalian pulang sambil nunggu kembang api di jalanan,” ujar Tania.

Kehidupan memang berubah. Setelah punya anak, energinya tentu beda. Akhirnya, Tania dan keluarganya memilih merayakan tahun baru dengan cara yang lebih sederhana. Tapi justru di situlah letak kehangatannya.

Menurut Tania, momen tahun baru terasa lebih santai ketimbang Lebaran. Soalnya, nggak ada beban harus menyiapkan bingkisan atau THR. Obrolannya pun mengalir begitu saja, tanpa tekanan. Rasanya memang lebih intim.

Di sisi lain, ada juga kisah dari Reni Lorinda (32). Bagi keluarganya, pergantian tahun adalah waktu untuk berkumpul lalu berdoa bersama. Tradisi syukur ini sudah dijalani sejak awal pernikahannya dan tetap bertahan sampai sekarang, ketika anaknya menginjak usia tiga tahun.

Buat Reni, malam tahun baru adalah saat yang tepat untuk introspeksi. Merenungi perjalanan setahun, mengambil hikmah, lalu menyusun harapan untuk hari esok.

“Waktu berlalu begitu cepat, banyak kekurangan dan kesalahan yang dilakukan di tahun lalu. Semoga tahun depan bisa jadi lebih baik, nggak mengulang kesalahan dan kekhilafan sebelumnya, serta diberikan kesehatan, rezeki yang berlimpah, keberkahan, kesuksesan, dan kebaikan,” tuturnya.

Intinya sih, apapun tradisinya mulai dari yang heboh sampai yang sederhana yang paling berkesan tetaplah rasa kebersamaan itu. Itu yang bikin kita selalu rindu untuk mengulanginya lagi, tahun demi tahun.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar