MURIANETWORK.COM Ngopipagi itu nikmat. Saat merenung, yang ideal tentu hal-hal positif, bukan merenungkan kebohongan.
Pada awalnya, bohong selalu tampak kecil. Datang seperti bisikan: sedikit saja, demi keadaan, untuk keselamatan sementara. Manusia bahkan yang cerdas sekalipun kadang yakin bisa mengendalikannya. Padahal, kebohongan tak pernah mau dikendalikan. Ia justru ingin diwariskan.
"
Di bangsa yang cerdas, kebenaran bukan benda rapuh. Ia padat, berat, punya daya tarik gravitasi sendiri. Apa pun yang melenceng, lambat atau cepat, akan ditarik kembali. Seringkali dengan cara yang menyakitkan.
Ambil contoh seorang pemimpin, dihormati karena kepandaiannya merangkai kata. Suatu hari ia memilih untuk tidak jujur. Bukan untuk merugikan, katanya, tapi untuk “menenangkan keadaan”.
Angka disederhanakan. Risiko dikecilkan. Fakta dibungkus rapi agar terdengar aman. Rakyat pun percaya. Mereka selalu percaya, sampai kenyataan datang membawa bukti yang tak terbantahkan.
Saat krisis akhirnya pecah, yang runtuh bukan cuma kebijakan. Wajah sang pemimpin berubah jadi arsip usang. Setiap pidato diputar ulang, setiap pernyataan disandingkan dengan data mentah. Bukan amarah publik yang paling menyiksa, melainkan kalimat sunyi yang mengiang di benak banyak orang: “Kalau sekarang ia bohong, kapan lagi ia jujur?”
Sejak itu, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa hampa. Bukan karena ia tak bicara benar, tapi karena kebenaran yang datang terlambat sudah kehilangan daya selamatnya.
Di sisi lain, ada kisah seorang akademisi. Cerdas, produktif, dielu-elukan. Ia tidak mengarang data sepenuhnya, hanya “menggesernya” sedikit. Koreksi kecil, katanya. Biar teorinya rapi. Agar hasilnya konsisten. Dan reputasinya pun melesat.
Tahun berganti. Karyanya dikutip, dijadikan dasar kebijakan penting. Sampai suatu hari, seorang mahasiswa bukan siapa-siapa mengulang riset itu. Dan angka-angka pun bicara. Bukan dengan emosi, tapi dengan ketepatan yang dingin.
Yang runtuh bukan cuma satu jurnal. Seluruh bangunan keilmuannya ikut retak. Nama yang dulu dihormati, kini cuma jadi catatan kaki tentang kesalahan fatal. Ia tak dipenjara atau diteriaki. Tapi undangan berhenti datang. Di kalangan orang cerdas, dilupakan adalah hukuman yang paling sunyi dan menusuk.
Ada juga kebohongan yang lebih personal, tapi tak kalah mematikan. Seorang profesional muda memoles cerita hidupnya. Pengalaman dilebihkan, peran dibesarkan, kegagalan dihapus halus. Ia diterima, dipuji, dipercaya.
Tapi pekerjaan tak bisa dibohongi. Tanggung jawab datang membawa tuntutan nyata. Keputusan salah beruntun, kebingungan tak bisa lagi disembunyikan. Lalu muncul pertanyaan sederhana dari rekan kerjanya: “Sebenarnya, apa sih yang bener dari ceritamu?”
Pertanyaan itu, percayalah, lebih tajam dari surat pemecatan.
Pada akhirnya, kebohongan akut selalu berakhir sama. Ia menciptakan ketegangan tak kasat mata antara kata-kata dan kenyataan. Semakin lama dipertahankan, energi yang dibutuhkan makin besar. Dan saat runtuh, ia tak jatuh perlahan. Ia ambruk sekaligus.
Bangsa yang cerdas sebenarnya tidak kejam. Ia cuma jujur pada logika. Tidak menghukum karena benci, tapi demi konsistensi. Di masyarakat seperti ini, kesalahan masih bisa dimaafkan. Namun kebohongan terutama yang disengaja akan selalu diingat sebagai noda.
Ironisnya, banyak kebohongan justru lahir dari rasa takut terlihat lemah. Padahal, kejujuranlah yang memberi ruang untuk perbaikan. Orang yang jujur mungkin terluka di awal. Tapi yang berbohong, ia akan berdarah-darah di ujung cerita.
Kebohongan akut bukan cuma soal etika. Ia adalah sabotase terhadap masa depan sendiri. Memutus kepercayaan. Padahal, kepercayaan itu satu-satunya jalan masuk menuju kolaborasi, kepemimpinan, dan pengaruh yang sah.
Di dunia yang cerdas, sebenarnya tak ada kebohongan yang benar-benar pintar. Yang ada cuma kebohongan yang belum ketahuan. Dan itu sifatnya selalu sementara.
Jadi, kalau suatu hari godaan untuk mengaburkan fakta itu datang, ingatlah satu hal: kebenaran memang tak pernah berlari. Tapi ia selalu tiba. Dan saat ia tiba, ia tak peduli siapa kita. Ia cuma menunjukkan, dengan terang, siapa kita sebenarnya.
Baiknya setiap NgopoPagi janganlah membuat bohong yang berseri. Karena bohong, pada akhirnya, akan jadi petaka. Tabik.
AHM 30122025
Artikel Terkait
Mahfud MD Dorong Profesional Manfaatkan Jalur RPL di UTM, Sebut Lebih Terhormat Daripada Gelar Kehormatan
Program Makan Bergizi Gratis Serap Lebih dari 1 Juta Tenaga Kerja
Komnas HAM Kutuk Penembakan Pesawat di Papua dan Desak Penegakan Hukum Transparan
Anggota DPR Desak Proses Hukum Guru di Jember yang Telanjangi 22 Siswa