Tak jauh dari Leson, Rojali sudah lebih dulu berjaga. Sudah sejak 17 Desember ia menggelar lapak bersama keponakannya. Bagi Rojali, dunia terompet ini adalah dunianya sejak kecil. "Saya sudah di sini sejak masih SD ikut orang tua, sekitar tahun 1980-an," kenangnya.
Ia melanjutkan, "Semua yang di sini orang Cikarang, kita semua bersaudara."
Kehidupan di trotoar selama berjualan bukan perkara mudah. Mereka tidur di antara tumpukan terompet, mengabaikan kenyamanan demi sekadar menunggu pembeli. Menurut Rojali, pembeli biasanya datang sendiri banyak yang membeli grosir untuk dijual kembali. Namun saat malam tahun baru tiba, strategi berubah. "Kita pindah ke dekat Pasar Baru," katanya.
Memang, tahun lalu penjualan mereka terbilang lesu. Rojali mengaku omzetnya hanya sekitar Rp 4 juta. Tapi tahun ini, semangatnya belum padam. Ia berharap semua terompet yang dipajang itu ludes terjual, meneruskan tradisi usaha keluarga yang turun-temurun agar kembali mendatangkan rezeki. Harapan sederhana, di tengah riuh warna-warni plastik yang menyambut tahun baru.
Artikel Terkait
Presiden Jokowi Sampaikan Duka Cita, Desak PBB Investigasi Serangan Israel yang Tewaskan 3 Pasukan Perdamaian TNI di Lebanon
Kisah Kelahiran Langka Rudini: Dari Anak Gajah Malang Menuju Puncak Karier Militer
Noussair Mazraoui Buka Suara: Pensiun dari Sepak Bola untuk Fokus Jadi Imam dan Hafiz Quran
Gattuso, Buffon, dan Gravina Mundur Usai Italia Gagal ke Piala Dunia 2026