Di Sudut Solo, Pak Harsoyo (76) Bertahan Menjual Kliping Koran Sejak 1984

- Senin, 29 Desember 2025 | 09:06 WIB
Di Sudut Solo, Pak Harsoyo (76) Bertahan Menjual Kliping Koran Sejak 1984

Di sudut Purwosari, Solo, lapak sederhana Pak Harsoyo masih setia berdiri. Usianya sudah 76 tahun. Sementara minat pada koran fisik kian merosot, pria ini justru bertahan dengan usahanya yang unik: menjual kliping koran. Sudah sejak 1984 ia tekun membaca, menggunting, dan menyusun berita. Padahal, dunia di luar sana sudah berubah drastis, dipenuhi gawai dan layar sentuh.

Rutinitasnya nyaris tak berubah. Setiap hari, mulai sekitar pukul sebelas siang hingga sembilan malam lebih, ia duduk di balik tumpukan koran dari berbagai penerbit. Satu per satu dibaca, lalu dipilah. Baru kemudian, guntingan-guntingan itu disusun rapi menjadi buku kliping berdasarkan tema. Seperti ritual yang tak pernah lekang.

Berawal dari Tugas Sekolah

Semua berawal dari hal sederhana. Dulu, anaknya yang masih duduk di bangku SD dapat tugas bikin kliping. Pak Harsoyo membantu. Ternyata, hasilnya menarik perhatian teman-teman sang anak. Permintaan pun berdatangan. Dari situ, ia menangkap peluang. "Kenapa tidak dicoba saja?" pikirnya. Akhirnya, ia memutuskan membuka jasa kliping secara mandiri.

Awalnya cuma sambilan. Tapi lama-lama, ia jalani dengan serius. Kini, dalam sehari ia bisa menghabiskan bacaan sepuluh koran berbeda. Berita-beritanya ia kelompokkan ke dalam 217 tema mulai dari pendidikan, sosial, hingga politik yang rumit. Ketelitian adalah kunci. Bagi dia, ini bukan cuma soal menggunting dan menempel. Lebih dari itu.

"Kliping ini tanggung jawab," katanya suatu kali.

Ia merasa punya peran menyediakan informasi yang dibutuhkan orang. Buktinya, karyanya dipakai untuk banyak hal: dari sekadar ngerjain PR anak sekolah, kelengkapan administrasi, sampai dokumentasi penting.

Masa Jaya dan Tantangan Zaman

Kalau ingat tahun 90-an, itu adalah puncak kejayaan. Dulu, informasi belum segampang sekarang didapat. Dokumentasi berita fisik sangat dibutuhkan. Bahkan saat krisis moneter 1998 melanda, justru usaha klipingnya mendatangkan keuntungan yang lumayan. Hasilnya dipakai buat menyekolahkan kelima anaknya sampai ke bangku kuliah.

Namun begitu, gelombang digitalisasi pelan-pelan menggerus. Sekitar 2019, permintaannya mulai turun. Orang lebih memilih cari di internet. Meski penghasilannya tak lagi sebesar dulu, Pak Harsoyo ogah berhenti. "Masih cukup untuk hidup sederhana," ujarnya.

Pelanggannya pun beragam. Ada pelajar, ibu rumah tangga, sampai pegawai pemerintah. Beberapa guru memesan untuk syarat administrasi naik status. Pasca pemilu, caleg atau tim suksesnya juga sering datang, mau pantau perkembangan partai lewat kliping.

Tentu ada kendala. Misalnya, pesanan yang sudah jadi tapi tak kunjung diambil. Rugi sih, tapi kliping-kliping itu tetap ia simpan rapi. Baginya, tanggung jawab terhadap pekerjaan tidak berakhir saat transaksi selesai.

Lebih dari empat puluh tahun menggeluti dunia ini, Pak Harsoyo memaknainya jauh lebih dalam dari sekadar cari uang. Ini adalah kontribusinya pada dunia pendidikan dan informasi. Di tengah gempuran era digital, ketekunannya seperti oase. Membuktikan bahwa konsistensi dan kerja tangan yang telaten, masih punya ruang dan nilai yang hangat.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar