Liburan Natal dan Tahun Baru, atau yang akrab disebut Nataru, selalu digambarkan penuh tawa dan kehangatan. Lihat saja media sosial. Penuh dengan foto keluarga, perayaan, dan resolusi yang bersinar. Tapi jujur saja, di balik semua kemeriahan itu, banyak dari kita justru merasakan sesuatu yang... aneh. Sebuah emosi campur aduk yang sulit dijelaskan.
Ada sih yang benar-benar senang, bisa istirahat panjang dan kumpul dengan orang tersayang. Namun begitu, tak sedikit yang malah merasa cemas. Lelah secara emosional. Atau tiba-tiba sedih tanpa tahu persis penyebabnya. Momen yang katanya spesial ini justru sering jadi pemicu overthinking. Kenapa ya?
Refleksi Akhir Tahun dan Tekanan Sosial
Nataru memang sering memaksa kita untuk introspeksi. Tanpa disadari, kita mulai menimbang-nimbang hidup sendiri. Pencapaian apa yang sudah didapat? Lalu, tanpa sengaja, mata kita beralih ke kehidupan orang lain. Target yang belum kesampaian, hubungan yang masih renggang, atau rencana yang berantakan semuanya berdatangan kembali ke kepala.
Secara psikologis, refleksi diri itu sebenarnya sehat. Tapi masalahnya dimulai ketika refleksi itu berubah jadi perbandingan sosial yang tak ada habisnya. Tekanan pun muncul. Dan media sosial, ya, platform itu memperparah keadaan. Yang kita lihat hampir selalu adalah sorotan terbaik dari hidup seseorang, bukan cerita lengkapnya.
Kesepian di Tengah Keramaian
Faktanya, tidak semua orang punya meja makan lengkap untuk disantapi saat malam tahun baru. Ada yang jauh dari keluarga, ada yang sedang berduka, dan ada pula yang sedang berjuang menghadapi fase hidup yang berat.
Rasa sepi di tengah hingar-bingar perayaan seringkali tak terlihat. Jarang dibicarakan. Banyak orang merasa tertekan untuk bahagia, karena Nataru dianggap sebagai momen wajib gembira. Padahal, perasaan itu tidak bisa dipaksakan untuk selalu sesuai dengan kalender.
Perasaanmu Itu Valid, Kok
Merasa lelah atau sedih di penghujung tahun bukan berarti kamu tidak bersyukur. Sama sekali bukan. Emosi manusia itu rumit bisa saja rasa senang dan sedih hadir bersamaan dalam satu waktu.
Psikologi mengenal istilah kesadaran emosi. Intinya adalah kemampuan untuk mengenali dan, yang paling penting, menerima perasaan yang muncul tanpa langsung menyalahkan diri sendiri. Mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja justru bisa jadi langkah pertama menuju pemulihan.
Menghadapi Nataru dengan Cara yang Lebih Lembut
Nataru tidak harus selalu tentang pesta besar atau resolusi yang muluk-muluk. Kadang, yang kita butuhkan justru hal-hal sederhana. Beberapa ide ini mungkin bisa membantu:
Pertama, coba kurangi kebiasaan membandingkan hidupmu dengan curhatan orang di media sosial. Itu melelahkan.
Kedua, jalani liburan sesuai dengan kondisi dan energi yang kamu miliki sekarang. Tidak perlu memaksakan diri untuk mengikuti semua agenda.
Berikutnya, beri diri sendiri izin untuk benar-benar beristirahat. Tanpa rasa bersalah.
Dan terakhir, fokuslah pada hal-hal kecil yang masih bisa kamu kendalikan. Hal-hal sederhana yang bisa memberi sedikit ketenangan.
Intinya, akhir tahun bisa jadi momen untuk merangkul diri sendiri, bukannya terus menghakimi.
Natal dan Tahun Baru pada dasarnya adalah momen transisi, bukan garis finish. Kalau perasaanmu akhir-akhir ini campur aduk, itu wajar. Sungguh. Tidak apa-apa jika Nataru tahun ini kamu jalani dengan langkah yang lebih pelan.
Yang penting, kamu masih bertahan. Masih mencoba. Masih melangkah, sekecil apa pun langkah itu. Dan itu, sebenarnya, sudah lebih dari cukup.
Artikel Terkait
Polemik Proyek Kapal KKP dan Menkeu Berakhir Setelah Klarifikasi Langsung
Curah Hujan Tinggi Picu Banjir 1,5 Meter di Dua Kecamatan Cirebon
BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob Meningkat di Berbagai Pesisir Indonesia pada Pertengahan Februari 2026
Warga Didorong Verifikasi Data DTSEN untuk Pastikan Akurasi Bansos