Dia menilai, peristiwa nyata kini sering diganti oleh dokumentasinya. Bukan lagi "apa yang terjadi", melainkan "apa yang di-posting dan dipertontonkan". Drama tumpukan uang itu contoh sempurna. Tujuannya? Untuk membuat publik pasif, menerima begitu saja bencana kerusakan hutan yang sebenarnya terus terjadi.
"Itu hanya tontonan," tambahnya tegas. "Agar rakyat pada posisi menyerah, pasrah terhadap bencana yang menimpanya."
Lebih jauh, Sutoyo menilai pemerintah sengaja bersembunyi di balik realitas palsu ini. Mereka ingin terlihat eksis, padahal sebenarnya tak berdaya melawan kekuatan kapitalis yang menguras sumber daya alam secara membabi buta. Upacara serah terima uang sitaan, baginya, hanyalah alat pengabur keadaan.
Dan di sinilah kritiknya menjadi lebih tajam. Dia menyebut rezim Prabowo tak beda dengan pendahulunya.
Semua pencitraan, semua rekayasa palsu, harus dibongkar. Itu intinya. Setiap foto atau video seremonial seperti penyerahan uang 6,6 triliun itu sudah disaring dan dipoles. Hasilnya? Tipuan yang mutlak harus diakhiri.
Artikel Terkait
Indonesia Kuasai 60% Pasar Sawit Global, tapi Harga Masih Ditentukan Luar Negeri
Nelayan di Pacitan Tewas Diduga Terseret Ombak Saat Melaut
Ragnar dan Verdonk Pulang Bareng ke Eropa, Bawa Misi Berbeda ke Klub Masing-masing
Malaysia dan Filipina Gagal Lolos, Empat Wakil ASEAN Siap Berlaga di Piala Asia 2027