Suasana Kambang Iwak pada Minggu, 28 Desember 2025, benar-benar berbeda. Hari itu adalah puncak sekaligus penutup dari rangkaian konser amal dua hari yang meriah. Dari panggung, bergantian terdengar alunan musik, pembacaan puisi yang menyentuh, dongeng, hingga tarian yang memukau. Energinya terasa begitu hidup.
Namun begitu, di balik semua kemeriahan itu, ada tujuan yang lebih dalam. Acara ini ternyata berhasil mengumpulkan dana yang cukup signifikan, mencapai Rp 6.080.000. Tak hanya uang, terkumpul juga banyak pakaian layak pakai. Semua sumbangan itu rencananya akan disalurkan untuk membantu korban bencana di Sumatera.
Ketua Dewan Kesenian Palembang, M Nasir, tampak sumringah. Ia menekankan bahwa kesuksesan ini bukanlah hasil kerja satu kelompok saja.
"Konser amal bukan kerja satu kelompok, melainkan hasil simpul kolaborasi lintas komunitas seni, budaya, dan sosial," ujarnya.
Menurutnya, donasi itu mengalir dari berbagai arah. Dari pengunjung yang sengaja datang, para seniman, relawan, bahkan dari warga biasa yang kebetulan melintas dan tergerak untuk menyumbang.
"Donasi datang dari pengunjung, komunitas, seniman, relawan hingga warga yang melintas," jelas Nasir.
Fakta itu, baginya, adalah bukti nyata. Empati dan kepedulian itu selalu ada di sekitar kita. Ia tidak hanya lahir dari panggung pertunjukan, tapi justru meresap dari hati ke hati penonton dan masyarakat yang hadir.
Di sisi lain, Nasir punya pesan penting. Seni, dalam pandangannya, punya kekuatan yang lebih besar dari sekadar ekspresi keindahan.
Ia berpesan bahwa seni tidak boleh berhenti pada ekspresi semata. Seni harus bergerak, menjelma menjadi aksi nyata yang bermanfaat bagi sesama. Konser amal ini adalah salah satu wujudnya di mana setiap nada dan gerak memiliki makna kemanusiaan yang mendalam.
Artikel Terkait
Mantan Menag Yaqut Ajukan Praperadilan atas Status Tersangka Korupsi Kuota Haji
39 Warga Boven Digoel Mengungsi Pascapenembakan Pesawat oleh KKB
KKB Tembak Pesawat di Papua Selatan, Dua Pilot Tewas
Hari Pers Nasional 2026: Tantangan Media di Era Dominasi Algoritma dan Viralitas