Gubernur Mirza Ungkap Strategi Lampung: Fondasi Dibangun, Komoditas Tak Lagi Mentah

- Minggu, 28 Desember 2025 | 20:42 WIB
Gubernur Mirza Ungkap Strategi Lampung: Fondasi Dibangun, Komoditas Tak Lagi Mentah

Lampung Geh, Bandar Lampung

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, punya penjelasan soal arah pembangunan daerahnya. Di acara Kaleidoskop Pembangunan Provinsi Lampung di Mahan Agung, Minggu (28/12), ia menyebut tahun 2025 ini sebagai fase awal untuk menata fondasi. Fokusnya jelas: membenahi infrastruktur jalan, konektivitas, ekonomi desa, dan tentu saja, meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Bagi Mirza demikian ia biasa disapa tahun pertama memimpin bersama Wakil Gubernur Jihan Nurlela ini bukan soal mengejar angka-angka semata. “Tahun 2025 ini adalah tahun awal. Bukan capaian pribadi gubernur atau wakil gubernur, melainkan kerja bersama Pemerintah Provinsi Lampung yang perlu disampaikan secara terbuka kepada publik,” ujarnya.

Ia mengakui, Lampung sebenarnya punya kekayaan alam yang luar biasa. Nilai komoditasnya bisa mencapai Rp140 triliun per tahun. Tapi di situlah masalahnya. Selama ini, sebagian besar komoditas itu masih keluar daerah dalam bentuk mentah. Uangnya pun ikut keluar, membuat perputaran ekonomi di dalam provinsi jadi terbatas.

“Kita kaya komoditas, tapi uangnya banyak keluar. Inilah masalah mendasar Lampung, capital outflow,” kata dia.

Secara teori, dengan total PDRB yang mencapai Rp483 triliun, pendapatan per kapita warga Lampung bisa menyentuh Rp4 juta per bulan. Namun, angka kemiskinan yang masih berkisar 10 persen dan IPM yang belum optimal menunjukkan bahwa teori itu belum sepenuhnya jadi kenyataan di lapangan.

Karena itulah, pembangunan infrastruktur jalan jadi prioritas utama tahun ini. Lewat program Bina Marga dan Bina Konstruksi, ada 52 ruas jalan provinsi sepanjang lebih dari 66 kilometer yang direkonstruksi, direhabilitasi, atau dilebarkan. Tak cuma jalan, 21 jembatan juga dibangun dan direhab dengan total panjang 451 meter. Memang, hingga akhir Desember, dua jembatan masih dalam pengerjaan karena terkendala cuaca ekstrem dan kondisi geografis. Tapi proyeknya tetap jalan, dengan penyesuaian teknis agar kualitasnya terjaga.

Hasilnya? Survei November lalu menunjukkan kemantapan jalan provinsi naik jadi 79,79 persen. Tingkat degradasi jalan pun berhasil ditekan.

Gubernur Mirza bilang, ada perubahan pendekatan di balik capaian itu. Dulu, pembangunan jalan lebih banyak mengarah ke kawasan perkebunan. Sekarang, prioritas diberikan ke wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi.

“Jalan bukan hanya soal ekonomi, tapi juga aktivitas sosial. Orang ke sekolah, ke pasar, ke tempat ibadah, semuanya membutuhkan jalan yang layak,” jelasnya.

Di sisi lain, konektivitas juga diperkuat. Lintasan penyeberangan Bakauheni–Merak tetap jadi andalan, dengan 47 kapal disiagakan untuk menghadapi arus mudik Natal dan Tahun Baru. Di udara, Bandara Radin Inten II dikukuhkan sebagai bandara internasional. Sementara Bandara Gatot Subroto di Way Kanan diaktifkan kembali untuk membuka akses ke wilayah timur Lampung.

Untuk menggerakkan ekonomi dari bawah, Pemprov meluncurkan program Desa Kumaju. Program yang berbasis potensi lokal desa ini mencakup banyak sektor, dari pertanian sampai UMKM. Sepanjang 2025, dibangun 500 unit pusat produksi pupuk organik cair di desa-desa. Program ini menjangkau lebih dari 190 ribu petani dan berhasil menekan ketergantungan pada pupuk kimia hingga 30 persen. Produktivitas pun diklaim naik sekitar 25 persen.

Di hilir, dibangun 34 unit bed dryer yang tersebar di 34 desa. Tiap unit bisa mengeringkan ratusan ton padi dan singkong per bulan, sekaligus memangkas kehilangan hasil panen.

“Program ini bertujuan membangkitkan pola pikir inovatif masyarakat desa agar mandiri dan berdaulat secara ekonomi,” kata Mirza.

Di bidang pendidikan, ada kebijakan membebaskan uang komite untuk siswa SMA, SMK, dan SLB Negeri lewat BOPD. Program Sekolah Rakyat juga mulai dirintis di tiga lokasi untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Yang menarik, ada Kelas Migran Vokasi untuk lulusan SMA/SMK yang akan kerja ke luar negeri, khususnya Jepang. Tahun ini, 137 siswa mengikutinya. Selain itu, lebih dari 23 ribu ijazah siswa yang tertahan di sekolah berhasil dibebaskan.

Sektor kesehatan tak ketinggalan. Beberapa inovasi diluncurkan, seperti Klinik Berhenti Merokok dan Klinik Nyeri. Upaya penanggulangan TBC juga digencarkan, dengan capaian penemuan kasus mencapai 60 persen dari target. RSUD Mohammad Thohir di Pesisir Barat pun diresmikan sebagai rumah sakit rujukan tipe C untuk wilayah terluar.

Pelayanan publik juga berubah. Aplikasi “Lampung In” yang diluncurkan Juni lalu, hingga Desember sudah diunduh lebih dari 14 ribu kali dan menampung hampir 600 laporan masyarakat.

Menutup paparannya, Gubernur Mirza menegaskan bahwa tahun pertamanya bukan soal kesempurnaan. “Kami memilih bergerak, menata fondasi, dan memastikan pembangunan benar-benar dirasakan,” tutupnya.

Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, yang hadir dalam kesempatan sama, menilai 2025 adalah fase penting untuk penataan dasar. Ia berjanji komitmen ini akan berlanjut.

“Pondasi telah dibangun dan arah pembangunan semakin jelas. Insyaallah, kerja-kerja ini akan terus kami lanjutkan dengan semangat kolaborasi yang berpihak kepada rakyat,” ujar Marindo.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar