Memang, nama Prabowo belakangan terus jadi sorotan. Bukan cuma di dalam negeri, lho. Tatapan dunia internasional juga ikut mengawasi. Ambil contoh penanganan bencana di Aceh dan Sumatera. Prosesnya dinilai lambat, bahkan terkesan kurang empati. Situasi kayak gini makin mengukuhkan kesan bahwa pemerintah sering datang terlambat saat rakyat paling butuh pertolongan.
Namun begitu, respons terhadap gelombang protes justru bikin banyak orang geleng-geleng. Alih-alih didengar, unjuk rasa malah dibubarkan paksa. Aksi represif aparat berujung pada penangkapan aktivis, bahkan ada yang sampai kehilangan nyawa. Ironis sekali. Negara yang mestinya jadi pelindung, malah berhadap-hadapan dengan rakyatnya sendiri.
Persoalan lain yang juga mencuat adalah soal komunikasi kekuasaan. Banyak yang curiga, keluhan rakyat mungkin nggak pernah sampai ke telinga Presiden. Semua aspirasi seolah tersaring dulu di meja Teddy Indra Wijaya, sang Menteri Sekretaris Negara. Dia dituding jadi "penyaring tunggal" segala kritik. Akibatnya, Prabowo seperti kehilangan "telinga" untuk mendengar jeritan warganya secara langsung.
Pada akhirnya, penampilan Yudhit Ciphardian itu cuma satu dari banyak cermin kegelisahan yang ada. Di balik tawa yang dipaksakan, pesannya jelas: bangsa ini sedang lelah. Beratnya perjalanan Indonesia sekarang bukan cuma karena krisis atau bencana alam, tapi karena kita seakan harus berjuang melawan pemerintah sendiri.
Artikel Terkait
Dugaan Nepotisme Warnai Usulan Penerima Bedah Rumah di Desa Nagauleng, Bone
Polemik 41 Dapur MBG di Sulsel: Aturan Dilanggar, Janji Penertiban Menguap
Veda Ega Pratama Catat Lap Tercepat, Tapi Jatuh di Moto3 Amerika Serikat
Prancis Tundukkan Kolombia 3-1, Doue Cetak Brace dalam Laga Uji Coba