Gaza Debu dan puing masih menempel di udara di Kamp Pengungsi Shati. Tapi Kamis lalu, tanggal 27 Desember, suasana itu berubah total. Jalanan yang muram tiba-tiba memancarkan cahaya dan semangat yang lain sama sekali. Sekitar lima ratus penghafal Al-Qur'an, laki-laki dan perempuan, memadatinya. Mereka berprosesi, sebuah arak-arakan yang berani, menantang bayang-bayang kelam genosida yang sudah dua tahun menindih Gaza.
Kalau kamu lihat, ini bukan cuma upacara keagamaan biasa. Lebih dari itu. Di bawah slogan “Gaza Berkembang dengan Para Penghafalnya,” acara yang digelar Komite Darurat bersama beberapa yayasan amal dari Kuwait ini seperti festival rakyat. Sebuah perayaan yang menyuntikkan denyut kehidupan ke tempat yang nyaris mati karena gempuran bom.
Suara takbir "Allahu Akbar" bergema, bersahutan dengan doa-doa warga yang berjejal di pinggir jalan. Para penghafal, berpakaian terbaik mereka, membawa mushaf dan bendera Palestina. Pemanduannya luar biasa. Lanskap kehancuran berubah seketika jadi ruang yang tenang, bahkan terasa magis.
Di tengah kerumunan, ada sosok Ibtisam Abu Huwaidi. Perhatian saya tertarik padanya. Dia adalah seorang hafizah yang berhasil mengkhatamkan hafalan 30 juz tepat di tengah berkecamuknya perang.
“Menghafal selama dua tahun di bawah bombardir? Jelas bukan hal mudah,” ujarnya kepada Anadolu Agency. Suaranya lirih tapi pasti. “Tapi Al-Qur'an itulah sumber kekuatan kami. Inilah cara kami bertahan, memegang harapan.”
Ibtisam bercita-cita anak-anaknya kelak mengikuti jejaknya. Menjaga api iman tetap menyala, sekalipun raga mereka terkepung.
Di sisi lain, ada pula Mushira Abu Watfa. Perempuan tua ini harus duduk di kursi roda. Usia dan kondisi fisik membatasinya. Tapi matanya berkaca-kaca menyaksikan jalanan kamp dipenuhi para penghafal. “Kemiskinan dan pengepungan tidak akan pernah bisa menghentikan kami,” katanya, penuh keyakinan. “Kami akan terus mengirimkan anak-anak untuk menjaga kalam Allah.”
Acara semacam ini ibarat antitesis dari apa yang coba dihancurkan Israel. Datanya berbicara keras. Menurut catatan Kantor Media Pemerintah Gaza, dalam dua tahun agresi, Israel telah menghancurkan total 835 masjid. Seratus delapan puluh masjid lainnya rusak parah.
Ini yang ironis. Padahal, perjanjian gencatan senjata sudah diteken sejak 10 Oktober lalu. Tapi faktanya, pelanggaran justru terus berjalan. Ada 875 pelanggaran baru yang tercatat, merenggut nyawa 411 warga Palestina dan melukai lebih dari seribu orang lainnya. Semua terjadi di masa yang seharusnya disebut “damai”.
Dampak agresi ini sungguh mengerikan. Dukungan persenjataan dari Amerika Serikat membantu meninggalkan luka yang dalam: 71.000 syahid, lebih dari 171.000 luka-luka. Infrastruktur sipil hancur lebur, hampir 90 persennya rata dengan tanah.
Tapi pesan dari pawai di Shati ini jelas. Mereka bilang, dunia boleh menghancurkan bangunan kami. Tapi identitas dan spiritualitas bangsa Palestina mustahil diratakan. Sertifikat penghargaan yang dibagikan hari itu bukan cuma secarik kertas. Itu adalah simbol kemenangan moral. Sebuah bukti bahwa semangat sebuah bangsa bisa mengalahkan mesin perang paling mutakhir sekalipun.
Artikel Terkait
Satgas Cartenz 2026 Amankan Senjata Rakitan di Rumah Kosong Yahukimo
Manchester United Hadapi Ujian Mental di London Stadium Lawan West Ham
Mentan: Kolaborasi dengan Polri Kunci Ketahanan Pangan Nasional
IHSG Menguat 1,24% ke 8.131, Analis Soroti Peluang dan Kewaspadaan