Kejujuran Tak Pernah Padam, Hati Pengkhianatlah yang Mati

- Sabtu, 27 Desember 2025 | 05:50 WIB
Kejujuran Tak Pernah Padam, Hati Pengkhianatlah yang Mati

EDITORIAL JAKARTASATU: Kejujuran Tak Pernah Padam, Kecuali pada Mereka yang Berkhianat

Kita semua tahu kejujuran itu penting. Nilai ini selalu diagung-agungkan, muncul dalam pidato, slogan di sekolah, hingga khotbah di tempat ibadah. Tapi coba lihat sekeliling. Semakin gencar dibicarakan, justru semakin jarang ia benar-benar dipraktikkan. Ada ironi yang pahit di sini. Sebenarnya, kejujuran sendiri tak pernah mati. Ia tak lapuk dimakan zaman. Yang justru padam dan menghilang adalah komitmen manusia untuk menjaganya terutama saat mereka memilih untuk berkhianat.

Jangan dikira kejujuran itu rapuh. Bukan. Sejak dulu kala, ia adalah fondasi dari segala hubungan dan kepercayaan. Perekat antarindividu, penyangga masyarakat, sekaligus kompas moral dalam diri. Kalau pun ia terlihat menghilang, sesungguhnya ia cuma ditinggalkan. Bukan lenyap.

Pengkhianatan selalu dimulai dari keputusan sadar. Tidak ada seorang pun yang berkhianat secara tidak sengaja. Pengkhianatan lahir dari pilihan untuk menutup mata terhadap kebenaran demi keuntungan pribadi, rasa aman semu, atau ambisi sesaat. Ketika seseorang berkata bahwa “kejujuran sudah tidak relevan,” sejatinya ia sedang membenarkan pengkhianatannya sendiri. Ia tidak sedang menggambarkan dunia apa adanya, melainkan membela kelemahannya.

Sejarah sudah membuktikannya. Di era paling kelam sekalipun, selalu ada suara kecil yang bersikukuh pada kebenaran. Di tengah korupsi yang merajalela, tetap ada yang menolak tunduk. Mereka mungkin tak punya kuasa, tapi martabatnya utuh. Ini menunjukkan bahwa kejujuran bukan soal jumlah pengikut. Ia bertahan karena keberanian segelintir orang yang setia menjaganya.

Nah, yang berbahaya, pengkhianatan sering kali datang dengan wajah yang ramah. Ia menyamar sebagai kompromi. Pakai bahasa yang halus: “ini demi keadaan,” atau “untuk kebaikan bersama.” Tapi ujung-ujungnya sama saja. Pengkhianatan tetaplah pengkhianatan. Ia menggerogoti integritas pelan-pelan, sampai akhirnya seseorang tak lagi mengenali dirinya sendiri. Di titik itu, kejujuran seolah padam. Padahal, yang padam adalah nurani si pengkhianat.

Dampaknya paling terasa dalam hubungan personal. Percaya yang dibangun bertahun-tahun, bisa hancur oleh satu kebohongan. Tapi menariknya, standarnya tetap sama: kejujuran. Saat dikhianati, orang tidak serta-merta berhenti percaya pada nilai kejujuran. Mereka cuma berhenti percaya pada orang yang mengkhianatinya. Lagi-lagi, ini bukti bahwa nilai itu sendiri tak pernah padam. Yang rusak adalah manusianya.

Masyarakat kita kadang keliru. Mereka menyalahkan kejujuran. Orang jujur dicap naif atau tidak realistis. Sementara yang licik dipuji sebagai pribadi yang cerdas dan pandai bertahan. Memang, dalam jangka pendek, kelicikan bisa memberi hasil. Tapi coba lihat jangka panjangnya. Masyarakat yang fondasi kejujurannya rapuh, lambat laun akan runtuh oleh ketidakpercayaan. Tidak ada peradaban besar yang bisa berdiri tanpa itu.

Harus diakui, bersikap jujur tak selalu menguntungkan. Seringkali malah bikin rugi, atau menuntut pengorbanan. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Kejujuran mengajarkan bahwa hidup ini bukan cuma soal apa yang kita dapat, tapi lebih pada apa yang kita pertahankan. Mereka yang setia mungkin kalah dalam permainan dunia, tapi menang dalam pertarungan batin.

Di sisi lain, pengkhianatan selalu menjanjikan jalan pintas. Hasil instan, untung besar, tanpa proses yang berliku. Tapi setiap jalan pintas ada harganya. Harganya adalah kepercayaan dari orang lain, dan yang paling menyiksa, dari diri sendiri. Hidup dalam ketakutan terus-menerus, takut kebohongannya terbongkar, itu adalah hukuman yang sunyi.

Sebenarnya, kejujuran tak perlu pembelaan muluk-muluk. Ia cuma perlu dihidupi. Lewat keberanian berkata benar meski berisiko. Lewat kesediaan mengakui kesalahan. Dan lewat konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Selama masih ada yang memilih jalan ini, kejujuran akan terus menyala. Gelapnya dunia di luar tak akan memadamkannya.

Jadi, pertanyaan besarnya bukanlah apakah kejujuran masih ada di dunia. Tapi, apakah kita masih mau memilihnya? Kejujuran tak menuntut kesempurnaan. Ia hanya minta kesetiaan. Setia pada kebenaran, pada nurani, dan pada diri sendiri. Seseorang bisa saja sukses menipu semua orang, tapi saat ia berkhianat, yang pertama kali ia khianati adalah jiwanya sendiri.

Maka klaim dalam judul ini benar adanya. Kejujuran tak pernah padam, kecuali pada mereka yang berkhianat. Ia tetap hidup, menunggu untuk dipilih kembali. Dan setiap kali ada yang memilih untuk jujur di tengah godaan dan tekanan di situlah ia menyala-nyala, membuktikan bahwa ia tak pernah benar-benar pergi. Tabik. (ED/jaksat-tom)

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar