"IPK kamu berapa?"
Pertanyaan itu hampir pasti muncul saat kita baru kenal di kampus. Seolah-olah satu angka itu bisa mewakili segalanya: perjuangan, waktu, bahkan nilai kita sebagai pribadi. Sistem seakan meyakinkan kita: IPK tinggi adalah jaminan masa depan. Tapi coba kita lihat lebih dalam. Di balik transkrip nilai yang rapi, seringkali ada kegelisahan yang tak pernah tercatat.
Saya pernah mengalaminya, dan mungkin kamu juga. IPK itu pelan-pelan berubah. Dari sekadar ukuran akademik, ia jadi penentu harga diri. Nilai bagus? Rasanya dunia aman. Turun sedikit? Langsung terasa seperti kegagalan besar. Rasa cemas dan malu pun datang. Seakan-akan hidup bisa runtuh hanya karena satu semester yang kurang sempurna.
Padahal, sejak dulu IPK kan cuma dibuat untuk mengukur pencapaian di kelas. Bukan untuk menilai ketahanan mental, empati, atau bagaimana kita menghadapi saat hidup nggak sesuai rencana. Sayangnya, sistem kita sudah telanjur menyempitkan arti sukses jadi sesuatu yang bisa dihitung dan dibanding-bandingkan. Alhasil, belajar pun kehilangan makna. Yang dikejar bukan lagi pemahaman, tapi angka.
Tekanan ini nggak cuma dari kampus, lho. Lingkungan sekitar punya andil besar. Orang tua, dengan segala niat baiknya, kerap menaruh harapan besar pada nilai. Masyarakat juga ikut-ikutan memuja gelar dan IPK mentereng sebagai simbol keberhasilan. Tanpa sadar, kita menciptakan budaya yang sangat tidak toleran pada kegagalan. Gagal bukan lagi bagian dari proses belajar, tapi sesuatu yang memalukan dan harus ditutup-tutupi.
Makanya, nggak heran kalau banyak mahasiswa ber-IPK nyaris sempurna justru merasa hampa. Mereka jago memenuhi standar, tapi jarang dapat kesempatan untuk benar-benar mengenal diri sendiri. Kelelahan dan burnout dianggap biasa, asalkan nilai tetap di atas. Mental yang rapuh seolah jadi harga wajib yang harus dibayar demi gelar "berprestasi".
Di sisi lain, kita sering lupa satu hal. Kehidupan setelah wisuda nggak berjalan pakai sistem penilaian kampus. Dunia nyata jarang sekali menanyakan IPKmu. Yang dituntut justru kemampuan adaptasi, cara berkomunikasi, dan ketangguhan untuk bangkit setelah terjatuh. Kemampuan-kemampuan ini nggak akan pernah kamu temukan di transkrip, tapi justru inilah yang menentukan apakah seseorang bisa bertahan dan berkembang.
Saya bukan bilang IPK nggak penting. Ia tetap relevan dan patut diperjuangkan. Tapi ketika IPK dijadikan satu-satunya tolok ukur kesuksesan, yang kita ciptakan adalah generasi yang cerdas di atas kertas tapi rapuh jiwanya. Risikonya jelas: lulusan yang takut salah, enggan mengambil risiko, dan selalu merasa dirinya kurang.
Menurut saya, sudah waktunya kita ubah cara pandang ini. Sukses seharusnya tidak mengorbankan kesehatan mental. Pendidikan itu kan mestinya membantu manusia tumbuh secara utuh, bukan cuma unggul secara akademis. Kampus, keluarga, sampai masyarakat luas perlu mulai menghargai proses, bukan cuma berfokus pada hasil akhir.
Pada akhirnya, mungkin keberhasilan sejati bukan terletak pada angka di transkrip. Tapi pada bagaimana kita menjalani hidup setelahnya dengan utuh. Kalau sebuah sistem hanya menghasilkan angka indah namun meninggalkan manusia yang lelah dan kehilangan arah, maka yang perlu kita pertanyakan adalah sistemnya. Bukan mahasiswanya.
Artikel Terkait
Benjamin Sesko Selamatkan MU dari Kekalahan dengan Gol Injury Time Lawan West Ham
Satgas Cartenz 2026 Amankan Senjata Rakitan di Rumah Kosong Yahukimo
Manchester United Hadapi Ujian Mental di London Stadium Lawan West Ham
Mentan: Kolaborasi dengan Polri Kunci Ketahanan Pangan Nasional