Kritik pedas kembali dilontarkan Amien Rais. Kali ini, sasarannya adalah pemerintahan baru Prabowo Subianto yang dinilai belum menunjukkan perubahan berarti. Dalam sebuah video di kanal YouTube-nya, Jumat lalu, Ketua Majelis Syura Partai Ummat itu menyebut gaya kepemimpinan Prabowo masih terasa seperti melanjutkan warisan era Joko Widodo.
Menurut Amien, ada semboyan yang sepertinya lebih disukai Presiden saat ini: "sedikit bekerja banyak bicara". Padahal, seharusnya prinsip yang dipegang justru kebalikannya.
"Pak Prabowo belum banyak bergerak memecahkan masalah-masalah besar bangsa Indonesia," ujarnya.
Ia menambahkan, "Masih terlalu sibuk berkelana ke berbagai negara. Sementara Gibran cuma londang-landung jadi objek ketawaan publik."
Politikus senior itu lantas memberi saran. Prabowo sebaiknya mengadopsi haluan Hizbul Wathan Muhammadiyah, "sedikit bicara banyak bekerja". Atau, kalau tidak, bisa mencontoh Soekarno dengan "banyak bicara banyak bekerja" untuk membangkitkan semangat juang.
Namun begitu, kritiknya tidak berhenti di situ. Amien dengan keras juga menyerang era kepemimpinan Jokowi, yang ia sebut sebagai "bapak korupsi Indonesia".
"Jokowi sangat sukses melakukan kooptasi hampir semua lembaga tinggi negara," kata Amien.
Ia mendeskripsikan bagaimana demokrasi dirusak dengan menjadikan DPR RI sebagai "tukang stempel", mengkooptasi kepolisian, dan membentuk KPK menjadi mitra yang setia. Semua itu, katanya, adalah regresi demokrasi menuju autokratisasi.
Amien mengingatkan sebuah fakta pahit: di akhir 2024, Jokowi dinobatkan oleh OCCRP sebagai pemimpin terkorup ketiga di dunia.
Persoalan lain yang disoroti adalah kemiskinan. Menurut hitungannya yang merujuk standar Bank Dunia, angka kemiskinan di Indonesia mencapai 68,3 persen. Itu artinya, sekitar 200 juta jiwa hidup dalam kategori miskin.
"Di zaman Pak Mukiti, Indonesia secara sistematis telah dimiskinkan," ungkap Amien, menggunakan sebutan khasnya untuk Jokowi.
Ia menggambarkan kerusakan yang terjadi: hutan digunduli, pohon ditebang, dan sebagian besar tambang seperti nikel, bauksit, dan emas diserahkan ke pihak asing.
Dari pemerintahan sebelumnya, Amien menyebut ada lima 'virus' berbahaya yang diwariskan: virus imoralitas, destruksi ekologi, kebohongan, kemunafikan, serta "cinta bangsa asing dan benci bangsa sendiri".
Di akhir pernyataannya, ia mengajak publik untuk "menyingkirkan" Mukidi beserta rombongannya. Bukan secara fisik, tapi mengakhiri peran politiknya yang dianggap mengganggu.
Harapannya, "Mudah-mudahan pimpinan baru Presiden Prabowo Subianto bisa lebih tenang menggagas dan melaksanakan berbagai program yang insyaallah untuk menguntungkan semua anak bangsa."
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Istana maupun kubu Jokowi terkait serangkaian kritik tajam tersebut.
Artikel Terkait
Megawati Terima Doktor Kehormatan di Arab Saudi, Tekankan Pemberdayaan Perempuan Kunci Kemajuan Negara
Megawati Raih Doktor Honoris Causa dari Universitas Perempuan Terbesar di Dunia
Megawati Raih Gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Perempuan Terbesar di Arab Saudi
BMKG Makassar Imbau Waspada Hujan dan Angin Kencang di Sulsel Besok