Heboh Model Dewasa di Kemenhan: Saat Sensasi Mengalahkan Substansi
Oleh: Wahyu Ari Wicaksono
Langit Jakarta kelabu hari itu. Suasana muramnya seolah menyimpan beban yang sama dengan hati para korban banjir bandang di Sumatera Barat. Di ruang redaksi, berita tentang kerusakan dan pengungsian masih berjuang untuk naik cetak. Tiba-tiba, seperti petir, sebuah unggahan muncul di linimasa. Seorang perempuan tersenyum lebar, berdiri anggun di sebuah koridor yang sangat familiar lorong kekuasaan Kementerian Pertahanan.
Dia Ayu Aulia. Namanya sudah tak asing lagi. Mantan model majalah dewasa yang kini menjelma penyanyi dan pebisnis. Tapi kali ini penampilannya berbeda. Berkemeja putih rapi dengan tanda pengenal di dada, ia mengklaim status baru: Tim Kreatif Kemenhan. Dunia maya langsung gempar. Gemuruh di media sosial seketika lebih keras gaungnya daripada laporan gempa bumi.
Panggung Sandiwara di Lorong Kekuasaan
Foto itu bicara banyak. Latar marmer dingin dan logo negara yang gagah jadi saksi. Ekspresinya penuh kemenangan. "Telah mengikuti tes yang tidak mudah," tulisnya. Narasinya sempurna untuk publik yang gemar kisah kejutan, tentang "orang biasa" yang tiba-tiba menyentuh lingkaran dalam.
Reaksi pun terbelah. Ada yang mencibir, ada yang penasaran. Tak sedikit yang, lelah dengan berita bencana, langsung melompat ke drama ini. Media online pun seperti mendapat angin. Klik. Klik. Klik. Judul-judul hebok bermunculan, menggeser berita tentang lumpur yang masih menyelimuti desa-desa nun jauh di sana.
Klarifikasi yang Malah Membuka Pertanyaan
Lalu datanglah klarifikasi. Seperti sudah bisa ditebak. Suara resmi itu berasal dari Brigjen Rico Ricardo Sirait, Karo Infohan Kemenhan. Pernyataannya tegas dan datar: “Tidak dilantik, tidak diangkat, dan tidak memiliki penugasan.” Penjelasannya singkat: ia cuma tamu di sebuah acara organisasi kemasyarakatan.
Selesai? Tidak juga. Justru di sinilah cerita sesungguhnya berawal. Pernyataan itu bagai pintu yang dikunci rapat, meninggalkan kita semua di luar penasaran. Acara organisasi apa yang bisa dapat izin berkumpul di jantung pertahanan negara? Siapa yang membuka pintu? Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung, tak terjawab.
Kemenhan, benteng kedaulatan, tiba-tiba terasa punya lobi yang bisa dipakai buat selfie oleh siapa saja yang punya nyali. Persoalannya bukan lagi salah paham seorang perempuan. Ini sudah menyentuh soal integritas benteng itu sendiri.
Publik yang Lelah dan Butuh Distraksi
Coba bayangkan. Bencana di Sumatera itu seperti lukisan besar yang memilukan, butuh perhatian serius untuk diperbaiki. Lalu, di sudut kanvas yang sama, seseorang mencoretkan cat neon menyilaukan. Mata kita pasti akan tertarik ke coretan neon itu. Itulah yang terjadi.
Filsuf Byung-Chul Han punya istilahnya: “masyarakat kelelahan.” Pikiran publik sudah jenuh oleh beban masalah berat yang tak ada ujungnya. Di alam bawah sadar, kita rindu distraksi. Sesuatu yang dramatis, personal, dan gampang dicerna. Kolaborasi tak terduga antara Ayu Aulia dan Kemenhan adalah pasangan panggung yang sempurna. Sensasi, sekali lagi, menang atas substansi.
Narasi yang Hilang
Di tengah keributan ini, ada yang terasa absen: sang penjaga narasi. Institusi sebesar Kemenhan bukan cuma wajib membantah. Lebih dari itu, mereka harus menguasai cerita. Klarifikasi yang tuntas bukan sekadar kata “tidak”. Ia harus berupa narasi alternatif yang kuat, jernih, dan bisa memulihkan kepercayaan.
Kenapa tidak ada penjelasan terbuka soal protokol keamanan untuk acara di lingkungan kementerian? Apakah ada konsekuensi untuk penyalahgunaan kesan institusi? Tanpa transparansi semacam ini, bantahan terasa seperti menutup lubang dengan plastik. Angin skeptisisme tetap bisa menerobos masuk.
Teater yang Kita Semua Mainkan
Pada akhirnya, ini adalah teater yang kita semua tonton bahkan kita akting di dalamnya. Figur kontroversial memainkan peran pencari sensasi. Media jadi pengeruk atensi. Algoritma media sosial bertindak sebagai sutradara tak terlihat. Dan kita, para penonton, dengan mudah beralih dari tragedi nyata ke komedi absurd.
Kemenhan, dalam episode ini, bukan korban. Ia adalah pemeran utama yang lupa bahwa panggungnya adalah ruang kedaulatan, bukan studio reality show. Kasus ini cermin retak. Di dalamnya, kita lihat bayangan diri sebagai bangsa yang gampang teralihkan oleh gincu, lupa pada luka yang masih menganga.
Pertahanan sebuah bangsa tak cuma diukur dari kekuatan senjata. Tapi juga dari keteguhan narasinya. Dan belakangan ini, narasi kita seperti tersandera oleh badai yang kita ciptakan sendiri. Badai di mana satu unggahan selfie bisa mengalahkan jeritan ribuan orang yang sedang berduka.
Kita masih menunggu. Bukan menunggu kejutan berikutnya dari sang model. Tapi menunggu tindakan bijak dari sang benteng. Sudah waktunya panggung sandiwara ini ditutup. Perhatian kita perlu dikembalikan pada hal yang nyata: air yang surut, luka yang mengering, rumah-rumah yang berdiri kembali. Atau kita akan tetap terpaku pada drama di lorong kekuasaan, sementara di luar, hujan sesungguhnya sudah mulai lagi mengguyur.
Artikel Terkait
Satgas Cartenz 2026 Amankan Senjata Rakitan di Rumah Kosong Yahukimo
Manchester United Hadapi Ujian Mental di London Stadium Lawan West Ham
Mentan: Kolaborasi dengan Polri Kunci Ketahanan Pangan Nasional
IHSG Menguat 1,24% ke 8.131, Analis Soroti Peluang dan Kewaspadaan