Healing di Akhir Tahun: Tren atau Kebutuhan Jiwa yang Mendasar?

- Kamis, 25 Desember 2025 | 23:00 WIB
Healing di Akhir Tahun: Tren atau Kebutuhan Jiwa yang Mendasar?

Akhir tahun tiba. Saatnya melepas penat, jauh sejenak dari tumpukan kerja atau tugas kuliah. Bagi generasi sekarang, momen ini sering disebut 'healing'. Tapi sebenarnya, apa itu healing? Apakah cuma tren belaka, atau justru kebutuhan jiwa yang mendasar?

Nyatanya, ada banyak cara untuk melakukannya. Bisa dengan pergi ke tempat wisata, mencoba hal-hal baru, atau bahkan cuma berdiam diri di rumah sambil menikmati ketenangan. Intinya, mencari jeda dari realitas yang kadang bikin sumpek.

Tekanan itu sendiri datang dari mana-mana: tuntutan kerja, target akademik, hingga dinamika pergaulan. Menurut Hikmah dan kawan-kawan dalam sebuah penelitian, healing sebenarnya adalah strategi coping. Sebuah upaya sadar untuk mengelola tekanan tersebut.

“Healing menjadi salah satu bentuk coping stress yang dilakukan individu untuk mencapai keseimbangan psikologis melalui pengalaman yang menyenangkan dan menenangkan,”

Begitu bunyi kesimpulan mereka. Jadi, ini bukan soal lari dari masalah. Lebih tepatnya, sebuah ikhtiar untuk memulihkan kondisi mental yang sudah lelah.

Pariwisata dan Pemulihan Psikologis

Nah, salah satu bentuk healing yang paling populer ya jalan-jalan. Menyusuri tempat baru, menikmati alam, atau sekadar kulineran. Menurut penelitian yang sama, aktivitas pariwisata punya kontribusi nyata bagi kesejahteraan individu.

“Aktivitas pariwisata memiliki kontribusi terhadap peningkatan well-being individu melalui relaksasi dan pengurangan stres.”

Lingkungan baru memberi kita ruang. Ruang untuk bernapas, mengambil jarak, dan memulihkan batin. Makanya nggak heran kalau akhir tahun selalu jadi momen yang ditunggu untuk pergi.

Di sisi lain, ada juga konsep self-healing yang ditekankan oleh Bachtiar dan Faletehan. Ini lebih ke proses internal.

“Self-healing merupakan metode pengendalian emosi yang dilakukan individu secara sadar untuk mengelola stres dan konflik emosional,”

ujar mereka. Akhir tahun kerap jadi waktu untuk evaluasi diri melihat kembali pencapaian, kegagalan, dan harapan. Di titik inilah self-healing berperan: menenangkan diri, belajar menerima, dan perlahan membangun keseimbangan emosi yang mungkin sempat goyah.

Lebih dari Sekadar Tren

Jadi, apakah healing cuma ikut-ikutan? Rasanya tidak. Baik itu lewat jalan-jalan atau refleksi diri, yang kita lakukan sebenarnya adalah memenuhi kebutuhan psikologis yang paling dasar: melepas lelah, mengatur emosi, dan menyegarkan pikiran.

Pada akhirnya, momen akhir tahun ini bukan cuma soal libur panjang atau postingan estetik di media sosial. Di balik itu semua, ada keinginan manusiawi untuk berhenti sejenak. Tubuh dan pikiran kita butuh istirahat setelah berbulan-bulan digempur tekanan. Healing, dalam bentuk apa pun, adalah cara kita merawat kesehatan mental. Cara kita untuk tetap waras.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar