Di era digital ini, peran ayah bahkan meluas. Dia menjadi teladan utama dalam penggunaan teknologi. Anak belajar mengelola waktu di depan layar, mengolah emosi, dan membina hubungan sosial dari apa yang dilihatnya setiap hari di rumah. Akan jadi kontradiksi yang nyata, jika seorang ayah larut dalam dunianya sendiri lewat gawai, tapi menuntut anaknya untuk disiplin.
Sebaliknya, ayah yang bisa menunjukkan keseimbangan antara kerja, keluarga, dan kehidupan digital, itu sendiri sudah menjadi pelajaran berharga bagi anak-anaknya.
Lalu, bagaimana menghadapi semua ini? Tentu saja, beban tidak bisa hanya diletakkan di pundak para ayah secara individu. Dibutuhkan pendekatan yang lebih sistemik. Misalnya, dalam Pendidikan Kesiapan Berkeluarga, kesiapan laki-laki menjadi ayah harus jadi isu utama, bukan sekadar tempelan.
Dunia kerja juga perlu berubah, menciptakan iklim yang ramah bagi para ayah untuk terlibat dalam pengasuhan tanpa mendapat stigma. Layanan konseling keluarga dan program parenting yang melibatkan ayah juga harus lebih mudah diakses.
Keluarga besar dan komunitas sekitar bisa berperan sebagai jaringan pendukung. Ketahanan keluarga adalah hasil kerja bersama, bukan tanggung jawab individu semata.
Pada akhirnya, Indonesia tidak kekurangan jumlah ayah. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana menghadirkan ayah yang benar-benar hadir secara emosional dan psikologis dalam kehidupan anak-anak mereka.
Karena masa depan bangsa ini sangat ditentukan oleh kualitas hubungan dalam keluarga hari ini. Negeri yang kokoh bertumpu pada keluarga yang utuh. Dan keluarga yang utuh, memerlukan kehadiran seorang ayah yang sepenuhnya.
Prof. Euis Sunarti
Ketua Penggiat Keluarga Indonesia (Giga Indonesia)
Artikel Terkait
Lebaran Usai, 171 Ribu Kendaraan Banjiri Makassar di Puncak Arus Balik
Harga Emas Perhiasan Stabil di Tengah Gejolak Pasar Global
Spanyol Hancurkan Serbia 3-0 dalam Uji Coba, Oyarzabal Cetak Brace
Harga Emas Pegadaian Naik, Galeri 24 dan UBS Tembus Rp2,8 Jutaan per Gram