Paus Leo XIV Soroti Gaza dan Nestapa Perang dalam Khotbah Natal Perdananya

- Kamis, 25 Desember 2025 | 18:42 WIB
Paus Leo XIV Soroti Gaza dan Nestapa Perang dalam Khotbah Natal Perdananya

Di bawah langit kelabu Vatikan, berkat Natal Paus Leo XIV kali ini terasa berbeda. Ini adalah perayaan Natal pertamanya sejak terpilih Mei lalu, menggantikan Paus Fransiskus yang telah wafat. Dari mimbar Basilika Santo Petrus, Kamis (25/12) lalu, sorotannya justru tertuju pada krisis kemanusiaan yang memilukan di Jalur Gaza.

Dalam khotbahnya, Paus mengajak jemaat merenung. Ia bercerita tentang kelahiran Yesus di sebuah kandang yang sederhana, tentang kerapuhan manusia di tengah kemiskinan dan konflik. Narasi itu ia sambungkan langsung dengan realitas yang terjadi hari ini, jauh dari kemegahan Vatikan.

“Bagaimana mungkin kita tidak memikirkan tenda-tenda di Gaza, yang selama berminggu-minggu terpapar hujan, angin, dan dingin?”

Suaranya, seperti dilaporkan AFP, terdengar penuh keprihatinan. Pertanyaan retoris itu menggantung, menyentak kesadaran.

Namun begitu, perhatiannya tidak berhenti di Gaza. Leo juga menyoroti penderitaan tunawisma di berbagai penjuru dunia. Ia bicara tentang kehancuran akibat perang yang masih berkecamuk, meninggalkan luka yang dalam bagi peradaban.

“Rapuh adalah tubuh masyarakat yang tak berdaya, yang diuji oleh begitu banyak perang, baik yang masih berlangsung maupun yang telah usai, yang meninggalkan puing-puing dan luka yang terbuka,” katanya.

Dan pikirannya tertuju pada para pemuda.

“Rapuh pula pikiran dan kehidupan kaum muda yang dipaksa mengangkat senjata, yang di garis depan merasakan ketidakmasukakalan dari tuntutan yang dibebankan kepada mereka serta kebohongan yang memenuhi pidato-pidato bombastis dari mereka yang mengirim mereka menuju kematian.”

Kata-katanya keras. Jelas. Sebuah kritik tajam terhadap retorika perang.

Pada hari yang sama, seperti tradisi, Paus Leo XIV juga menyampaikan pesan dan berkat “Urbi et Orbi”. Momen yang rutin digelar dua kali setahun ini selalu dinantikan, karena biasanya berisi seruan Paus terkait konflik global dan isu-isu kemanusiaan yang mendesak. Tahun ini, Gaza dan penderitaan warga sipil menjadi pusat perhatian, memberikan nuansa yang getir pada sukacita Natal.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar