Di sisi lain, ada suara yang mengingatkan bahwa jalan masih panjang. KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil, salah satu Ketua PBNU, memberikan penjelasan rinci. Dia menyebut, islah ini lahir dari Rapat Konsultasi yang diinisiasi Syuriyah PBNU dan dihadiri oleh banyak pihak.
“Hadir pula Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf beserta Pengurus Tanfidziyah PBNU, H Amin Said Husni,” ujar Ulil.
Dia juga merinci jajaran Mustasyar yang hadir, seperti KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, hingga KH Machasin. Namun, narasinya tak berhenti di situ. Ulil mengingatkan bahwa konflik ini punya akar yang dalam.
“Sejak terjadinya konflik internal... perkembangan yang terjadi justru menunjukkan eskalasi konflik yang semakin tajam dan berkepanjangan,” katanya.
Berbagai upaya sudah dilakukan. Mulai dari musyawarah di Ploso Kediri, Tebuireng Jombang, hingga puncaknya di Musyawarah Kubro Lirboyo pada 21 Desember 2025 yang dihadiri pengurus wilayah dan cabang se-Indonesia. Banyak juga saran konstruktif dari ulama secara personal.
Tapi, kata Ulil, realitanya belum sepenuhnya cerah.
“Namun demikian, hingga saat ini konflik tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.”
Setelah mendengarkan penjelasan kedua belah pihak dan mempertimbangkan saran para Mustasyar, forum akhirnya memutuskan satu hal.
“Menetapkan bahwa Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama diselenggarakan dalam waktu secepat-cepatnya oleh Rais Aam dan Ketua Umum PBNU,” jelas Ulil.
Keputusan itu melibatkan Mustasyar, para sesepuh, dan pengasuh pesantren dalam penentuan waktu, tempat, hingga kepanitiaan. Jadi, islah di Lirboyo memang titik terang. Tapi sekaligus juga awal dari sebuah pekerjaan besar yang menanti. Semua mata kini tertuju pada persiapan Muktamar itu sendiri.
Artikel Terkait
ASDP Tunda Pengalihan Lintasan Penyeberangan ke Siwa-Kolaka Sampai 10 April 2026
Jenazah Mantan Menhan Juwono Sudarsono Tiba di Rumah Duka di Pondok Pinang
Iran Beri Sinyal Positif, Kapal Pertamina Dipertimbangkan Lintasi Selat Hormuz
Herdman Kagumi Atmosfer GBK: Atmosfer yang Sangat Unik