Melayani dengan Ikhlas: Kunci Bahagia dan Harmoni Menurut Islam

- Kamis, 25 Desember 2025 | 16:25 WIB
Melayani dengan Ikhlas: Kunci Bahagia dan Harmoni Menurut Islam

Kata "melayani" itu sederhana, ya. Cuma delapan huruf. Tapi coba renungkan, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar urusan bantuan atau jasa. Melayani, pada hakikatnya, adalah soal memberi. Bukan cuma barang, tapi perhatian, kasih sayang, dan kepedulian yang tulus kepada sesama. Spirit inilah yang percayalah bisa membawa kesejahteraan, bukan hanya untuk orang yang kita layani, tapi juga untuk diri kita sendiri.

Nah, dalam ajaran Islam, amalan ini punya tempat yang istimewa. Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain."

Hadis riwayat Ahmad itu jelas sekali, bukan? Intinya, dengan melayani, kita sedang menebar manfaat. Dan dunia yang penuh manfaat, tentu saja, adalah dunia yang lebih baik.

Lalu, gimana caranya? Bentuknya bisa macam-macam, nggak melulu hal-hal besar. Bisa dengan menolong yang kesusahan, menjenguk saudara yang sakit, atau bahkan sekadar menebar senyum tulus di pagi hari. Poin utamanya satu: ketulusan. Melayani itu soal memberi tanpa pamrih, tanpa menghitung-hitung pujian atau balasan.

Dan inilah yang menarik. Ketika kita melayani dengan hati, efeknya justru kembali ke kita. Ada rasa bahagia dan kepuasan batin yang sulit dijelaskan. Hidup terasa lebih punya tujuan. Di sisi lain, secara spiritual, amalan ini juga mendekatkan kita kepada Allah SWT, karena kita menjalankan apa yang Dia anjurkan.

Dampaknya dalam lingkup masyarakat pun nggak main-main. Bayangkan jika semangat ini menular. Lingkungan jadi lebih harmonis, penuh empati, dan tentram. Pada akhirnya, melayani memang bisa jadi kunci untuk membangun dunia yang lebih damai.

Jadi, yuk, kita coba jadikan spirit melayani sebagai bagian dari keseharian. Lakukan dengan ikhlas, tanpa beban. Lakukan saja. Karena perubahan besar seringkali dimulai dari langkah-langkah kecil yang kita ambil hari ini.

Imam Nur Suharno, Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar