Itu cuma ilusi. Rokok itu penyakit yang sabar. Efeknya menumpuk pelan-pelan. Banyak yang di usia muda masih perkasa, eh, di umur 50 atau 60 tahun baru merasakan akibatnya. Dan di titik itu, sensasi nikmat dari sebatang rokok sudah lama hilang. Yang tersisa justru segudang obat untuk mengatasi komplikasi yang muncul.
Jadi, saat ada yang berkomentar membela kebiasaan merokok dengan membandingkannya pada hal lain, sebenarnya itu bukan argumen. Itu lebih ke bentuk pertahanan psikologis. Cara halus untuk bilang, "Jangan ganggu zona nyaman saya."
Dan ya, itu wajar. Manusiawi banget.
Tapi fakta tetap fakta. Ia nggak peduli dengan pembenaran kita.
Rokok ya tetap racun. Obat ya tetap alat terapi. Membandingkan keduanya cuma jadi pembenaran yang rapuh, yang sama sekali tidak mengubah realita biologis di dalam tubuh setiap perokok.
Memang, mengedukasi soal bahaya rokok bukan perkara gampang. Yang dilawan bukan cuma kecanduan nikotin, tapi juga seluruh mekanisme pembenaran dalam kepala. Perlu kesabaran.
Fakta berbicara dengan data dan angka. Tapi perubahan, selalu dimulai dari satu hal sederhana: kejujuran pada diri sendiri.
Artikel Terkait
Harga Emas Perhiasan Stabil di Tengah Gejolak Pasar Global
Spanyol Hancurkan Serbia 3-0 dalam Uji Coba, Oyarzabal Cetak Brace
Harga Emas Pegadaian Naik, Galeri 24 dan UBS Tembus Rp2,8 Jutaan per Gram
Longsor Rusak Parah Jalan di Barru, Warga dan Akademisi Desak Perbaikan Segera