Di sisi lain, dukungan infrastruktur tak kalah penting. Ferry menyediakan puluhan unit Starlink untuk komunikasi, genset bertenaga surya, bahkan alat berat seperti ekskavator untuk membuka akses. Belum lagi barang-barang pendukung seperti selimut, kasur, tenda, MCK darurat, dan perlengkapan kesehatan. Pokoknya, upayanya cukup komprehensif.
"Efisiensi biaya itu kuncinya. Kami kolaborasi dengan TNI, Polri, dan mitra swasta untuk tekan biaya logistik. Lalu, biaya operasional seperti sewa pesawat atau akomodasi, itu tanggung pribadi saya dan Malaka," jelas Ferry, menjawab pertanyaan soal bagaimana bantuan bisa sebesar ini.
Jadi, ada tiga pilar utama: efisiensi ketat, kolaborasi strategis, dan pendanaan operasional mandiri. Itulah resepnya.
Di balik semua angka dan logistik itu, tentu ada cerita yang tak terukur: waktu, keringat, dan dedikasi tanpa henti. Ferry dan timnya telah mencurahkan segalanya, menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan bukan cuma soal transfer dana, tapi juga kehadiran dan komitmen nyata di tengah reruntuhan.
Artikel Terkait
Anggota DPR Nilai PP TUNAS Bentuk Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak
17 Warga Gugat Ditreskrimum Polda Metro Jaya atas Penanganan Kasus Ijazah Jokowi
Putri Wakil DPRD Sulsel Kelola 41 Dapur Makanan Gratis Senilai Rp61,5 Miliar
Idrus Marham Kritik Komunikasi Pemerintah, Juru Bicara dan Menteri Dinilai Belum Maksimal