Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bakal terus mengalir di bulan Ramadan tahun depan. Pemerintah sudah memastikannya. Ini kabar bagus buat jutaan anak sekolah yang mengandalkan program ini untuk asupan harian mereka.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, yang ngomong langsung soal kelanjutan program ini. Menurutnya, ibadah puasa sama sekali nggak boleh bikin hak dasar masyarakat, terutama anak-anak, untuk dapat makanan bergizi jadi terabaikan. Negara tetap hadir.
“Untuk Ramadhan tetap dilaksanakan, jadi kalau sekolah masuk maka program makan bergizi tetap dilaksanakan,” tegas Dadan dalam jumpa pers di Istana.
“Tetapi mekanismenya berbeda seperti hari biasa, dimana kita akan berikan makan bergizi itu untuk dibawa pulang. Jadi untuk yang puasa bisa dimakan saat buka, untuk yang tidak puasa bisa dimakan sembunyi di sekolah atau di rumah,” lanjutnya menerangkan skema khusus yang bakal diterapkan.
Nah, skema inilah yang jadi penyesuaiannya. Intinya, fleksibel. Bagi siswa yang menjalankan puasa, paket makanannya bisa dibawa pulang untuk dinikmati saat buka. Sementara, buat yang nggak berpuasa, mereka tetap bisa mengonsumsinya di sekolah hanya saja, caranya diatur agar nggak mencolok. Istilah ‘makan sembunyi-sembunyi’ itu sempat bikin publik bertanya-tanya, tapi konteksnya jelas: menghormati teman-teman yang sedang puasa.
Di sisi lain, kebijakan ini nggak cuma soal makan. Ini adalah bentuk adaptasi pemerintah yang cukup penting. Mereka berusaha menjaga keseimbangan yang pas antara menjalankan program pelayanan publik dan menghormati nilai-nilai keagamaan yang hidup di masyarakat. Ramadan bukan alasan untuk berhenti, apalagi program seperti MBG punya peran strategis. Misalnya, untuk menekan angka stunting dan menjaga kualitas gizi anak-anak di daerah yang memang sangat bergantung pada bantuan ini.
Dadan menekankan, dengan terus berjalannya MBG, kehadiran negara buat kelompok rentan jadi lebih terasa. Konsistensi ini penting. Pada akhirnya, yang dijaga adalah prinsip dasar: nggak boleh ada anak yang kehilangan akses gizi hanya karena perbedaan kondisi ibadahnya.
Harapannya sih jelas. Dengan pendekatan yang luwes dan mempertimbangkan banyak sisi, program ini bisa tetap optimal dan inklusif. Bisa menjawab kebutuhan anak Indonesia, baik di bulan Ramadan maupun di bulan-bulan lainnya.
Memang, wacana ‘makan sembunyi-sembunyi’ tadi sempat mengundang diskusi. Tapi secara keseluruhan, langkah melanjutkan MBG dengan penyesuaian ini patut diapresiasi. Ia menunjukkan bahwa program pemerintah bisa tetap berjalan tanpa mengabaikan sensitivitas sosial dan agama.
Artikel Terkait
Polemik Proyek Kapal KKP dan Menkeu Berakhir Setelah Klarifikasi Langsung
Curah Hujan Tinggi Picu Banjir 1,5 Meter di Dua Kecamatan Cirebon
BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob Meningkat di Berbagai Pesisir Indonesia pada Pertengahan Februari 2026
Warga Didorong Verifikasi Data DTSEN untuk Pastikan Akurasi Bansos